AGROFORESTRI BERBASIS ROTAN TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI BARITO SELATAN

Johanna Maria Rotinsulu, Sosilawaty Sosilawaty, Yanarita Yanarita

Abstract


South Barito is an area of rattan and rattan production center of the province of Central Kalimantan, on the other hand is one area that has natural conditions very conducive to the development of rattan. This study reveals how patterns in addition to planting and processing of rattan traditionally also analyze the socio-economic level of society. Research conducted in South Barito regency, District Karau in Two Villages is Bangkuang and New Salat. The village of the second sample is determined gardens and population are farmers who cultivate cane with sampling methods by simple random sampling, because the peasant population is homogeneous, the number of samples in each village 34 respondents or 68 farmers overall. The result showed that in general the rattan garden where the studies were not well-maintained, where the average of respondents (45%) said that maintenance is only performed at the time of going to the harvesting or one for rattan planting. Besides the low price of rattan is led to a reduction of land management / rattan gardens intensively. and production of rattan average yield of 2.6 tons ha-1 or 245.5 clumps of cane ha-1. For the villagers of business administration studies despite conditions that are considered less favorable, but they still look forward to the Government's policy to remain aligned to the Farmers Rattan. In addition, because cane is inherited and used as a hallmark of South Barito society in general.

Barito Selatan merupakan daerah penghasil rotan dan sentra produksi rotan provinsi Kalimantan Tengah, selain itu merupakan salah satu wilayah yang memiliki kondisi alam yang sangat mendukung bagi perkembangan rotan. Penelitian ini selain untuk mengungkapkan bagaimana pola tanam dan pengolahan rotan secara tradisional juga  menganalisis tingkat sosial ekonomi masyarakat. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Barito Selatan, Kecamatan Karau di Dua Desa yaitu Bangkuang dan Salat Baru. Dari kedua Desa tersebut ditentukan kebun sampel dan populasi masyarakat  yaitu  petani yang mengusahakan rotan dengan metode pengambilan sampel secara simple random sampling, karena populasi petani bersifat homogen, jumlah sampel di masing-masing desa 34 responden atau keseluruhan 68 petani. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pada umumnya kebun rotan di tempat penelitian tersebut tidak terpelihara dengan baik, dimana rata-rata responden (45%) menyebutkan bahwa pemeliharaan hanya dilakukan pada saat akan dilakukan pemanenan atau satu kali selama rotan itu di tanam. Selain itu rendahnya  harga  rotan  sangat  berdampak pada berkurangnya pengelolaan lahan/kebun rotan secara intensif. dan hasil produksi rotan rata-rata diperoleh 2,6 ton ha-1 atau 245,5 rumpun rotan ha-1. Bagi masyarakat Desa studi walaupun kondisi tataniaga yang dianggap kurang menguntungkan, namun mereka masih berharap kebijakan Pemerintah tetap berpihak kepada Petani Rotan. Di samping itu  karena pada umumnya rotan merupakan warisan dan digunakan sebagai ciri khas masyarakat Barito Selatan.


Keywords


rotan; budidaya; produksi, agroforestry; rattan; cultivation; production agroforestry

Full Text:

PDF

References


Alrasyid, H.1987. Aspek-aspek Silvikultur rotan. Diskusi hutan tanaman industri (27-28 April 1987). Jakarta.

Arifin,Y.F. 1995. The Gardens in North Barito District: A Case Study In Muara Teweh village. Central Kalimantan. Thesis For The Degree of Tropical Forestry In Faculty Of Forestry Science. University Gottingen.

., 2011. Rotan : Budidaya dan pengelolaannya. Universitas Lambung Mangkurat Press. Banjarmasin.

Bratawinata, A.1998. Ekologi Hutan Hujan Tropis dan Metode Analisis Hutan. Laboratorium Ekologi dan Dendrologi Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda.

Ghozali, Imam. 2005. Model Persamaan Struktural, Konsep & Aplikasi dengan Program AMOS 16.0. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gunawan, 2002. Keragaan Perdagangan Rotan dan Produk Rotan Indonesia di Pasar Domestik Dan Internasional: Suatu Analisis Simulasi Kebijakan. (Disertasi). Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta. Hal. 56-61; 111-113. Iskandar, 1993. Studi tentang Sistem Budidaya Rotan Secara Tradisional Masyarakat

Januminro, CFM, 2000. Rotan Indonesia, Potensi, budidaya, pemungutan, pengolahan, standar mutu dan prospek pengusahaan. Penerbit Kanisius. Jakarta P.235.

Jasni, D. Martono dan N. Supriana. 2000. Sari hasil penelitian rotan. Himpunan sari hasil penelitian rotan dan bambu. Puslitbang Hasil Hutan, Bogor.

Kusmana, C. 1997. Teknik pengukuran keanekaragaman tumbuhan. Bahan pelatihan teknik pengukuran dan monitoring Biodiversity Hutan Tropika Indonesia. Jurusan konservasi sumberdaya hutan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Odum, E.H.L.M. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan Tjahjono Samingan, dari buku Fundamentals of Ecology. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pawarrangan. A, 2010. Pengembangan Industri di Kabupaten Katingan Makalah disajikan pada : Workshop Fasilitasi Pengembangan Usaha Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), tanggal 24 Agustus 2010 di Hotel Luwansa, Palangkaraya.

Rachman, O dan Jasni. 2008. Rotan sumberdaya, sifat dan pengolahannya. Pusat penelitian dan pengembangan hasil hutan. Badan penelitian dan pengembangan kehutanan Departemen Kehutanan. Bogor. P.132

Rotinsulu, J.M, 2014. Agroforestri Berbasis Rotan : Peran pohon dalam mempertahankan habitat dan meningkatkan kuantitas dan kualitas rotan. Disertasi. Tidak di publikasikan. Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang.

Sunderland, T.C,H. and J.Dransfield, 2000. Species Profiles Rattans. International Seminar of Rattan. ITTO report.,Roma Italy

Sumardjani, L. 2010. Prospek rotan Indonesia. Ketua yayasan rotan Indonesia. Makalah disajikan pada : Workshop Fasilitasi Pengembangan Usaha Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), tanggal 24 Agustus 2010 di Hotel Luwansa, Palangkaraya.

Sumardjani,L.2011. Studi Rotan di Katingan Kalimantan Tengah. Yayasan Rotan Indonesia. Jakarta.

Sunaryo, J. 2003. Peranan Ekologi Lokal dalam sistem agroforestri. World Agroforestry centre ICRAF. Bogor.

Sutisna, M. 2001. Silvikultur Hutan Alam. (Diktat Kuliah S2). Program Magister Pasca Sarjana. Universitas Mulawarman. Samarinda.




DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jht.v4i1.2886

Article Metrics

Abstract view : 612 times
PDF - 133 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Hutan Tropis Indexed by :

    

 

Jurnal Hutan Tropis is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License