SIFAT FISIKA DAN NILAI KETEGUHAN REKAT KAYU KECAPI (Sandoricum koetjape Merr)

Violet Burhanuddin, Diana Ulfah, Rika Emelya

Abstract


The research  aim was to determine the physical properties and bonding strenght value of Kecapi wood, and the relationship between the above both parameters, as well.  The above knowledge will be implemented in producing wood products. The ASTM D 143-52 dan ASTM D 1759-64 standard (1975) were used in order to test the physical properties and the bonding strength value.  The research result showed as followed average value of density based on the volume of dried air was 0,42; density based on the volume of dried kiln 0,43; wood moisture content 15,90%; radial shrinkage 2,75%; tangential shrinkage 4,22% and longitudinal shrinkage 0, 13%; anisotropy value was 2,37%; bonding strength value 64,11 kg/cm2 and timber damage 2,0%.The strenght of the wood is III – IV, and durability class as IV-V.  The wood has a high level of defect free and different shrinkage on the three-way cross-section.  Also, the research result showed that the bonding strenght complied with standard and timber damage was low.  So, koetjape wood may be recommended to be products by using glue-bond technology.  Meanwhile the relationships between physical properties and the bonding strength showed that only moisture content which had strong relation with bonding strength, namely r = 0,916.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika dan nilai keteguhan rekat kayu Kecapi (Sandoricum koetjape Merr) serta mengetahui hubungan antara sifat fisika dengan nilai keteguhan rekat kayu. Sifat fisika dan keteguhan rekat ini akan diaplikasikan untuk pemanfaatan produk kayu yang cocok berdasarkan sifat dasar dan besarnya kekuatan kayu tersebut. Pengujian sifat fisika dan nilai keteguhan rekat ini menggunakan standar ASTM D 143-52 dan ASTM D 1759-64 (1975). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai berat jenis berdasarkan volume kering udara 0,42, berat jenis berdasarkan volume kering tanur 0,43, nilai kadar air 15,90%, penyusutan radial 2,75%, penyusutan tangensial 4,22% dan penyusutan longitudinal 0,13%, nilai anisotropi 2,37%.  Rata-rata nilai keteguhan rekat 64,11 kg/cm2 dan rata-rata kerusakan kayu 2,00%. Berdasarkan nilai berat jenis, kayu ini termasuk kategori berat sedang yang memiliki kelas kuat (III-IV) dan kelas awet (IV-V). Kayu kecapi memiliki tingkat bebas cacat yang tinggi dengan nilai penyusutan kayu pada tiga arah penampang memiliki penyusutan yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa keteguhan rekat memenuhi standar dengan nilai kerusakan kayunya rendah, jadi kayu Kecapi dapat digunakan sebagai kayu yang memiliki kekuatan rekat yang baik untuk dijadikan produk dengan menggunakan teknologi perekatan. Berdasarkan hasil analisis regresi linear hubungan sifat fisika (berat jenis, kadar air dan penyusutan kayu) dengan keteguhan rekat kayu menunjukkan hanya kadar air yang berpengaruh nyata terhadap nilai keteguhan rekat (r = 0,916). Hal tersebut diduga adanya perlakuan terhadap posisi kayu dalam batang yang tidak sama.


Keywords


Kecapi wood; physical properties;density; moisture content; shrinkage of wood; Bonding strength; kayu Kecapi; berat jenis; kadar air; penyusutan kayu; keteguhan rekat; kerusakan kayu

Full Text:

PDF

References


American Society Testing And Material. 1975. Standart On Wood Concrete And Mineral Agregate American Society For Testing Material. Philadelpia.

BPS [Badan Pusat Statistik]. 2014. Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010. www.bps.go.id. [Akses: 1 Februari 2016]

Burhanuddin V & Wardani L. 2007. Buku Ajar Perekat dan Perekatan Kayu. Banjarbaru: Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat.

Haygreen and Bowyer. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Suatu Pengantar. Terjemahan Sutjipto A. Hadikusumo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Suatu Pengantar. Terjemahan Sutjipto A.Hadikusumo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan.

Hutapea R.J. 1994. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jilid III. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Hal 245-246.

IPTEKnet, BPPT. 2009. Buah Kecapi. www.ayobertani.wordpress.com. [Akses: 1 Februari 2016].

Kasmudjo, 1993. Kumpulan Makalah Ilmu Kayu dan Produk Hasil Hutan. Yogyakarta: Bagian Penerbit Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada

Teknologi Hasil Hutan Suatu Pengantar. Yogyakarta: Cakrawala Media.

Kemenhut [Kementerian Kehutanan]. 2015. Kesenjangan Persediaan Kayu Legal Dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Kapasitas Industri Kehutanan Di Indonesia Seri Laporan Tren Kehutanan. Perdagangan dan Keuangan Kehutanan, h 28.

Mahdie M.F. 2010. Sifat Fisika dan Mekanika Kayu Bongin (Irvingia malayana Oliv) dari Desa Karali III Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah. Banjarbaru: Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat.

Nadila P. 2015. Pengaruh variasi konsentrasi stabilisator Polyethylene Glycol 1000 (PEG 1000) dan lama perendaman terhadap tingkat kesuksesan stabilisasi dimensi dan penyusutan volumetris kayu Kecapi (Sandoricum koetjape Merr) [Skripsi]. Banjarbaru: Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat.

Natsir M. 2004. Hubungan Sifat Fisika dan Wetabilitas Kayu Jabon (Anthecephalus chinensis (Lamk.) A. Rich. Ex Walp. Sys.) Terhadap Keteguhan Rekat. (Skripsi). Banjarbaru: Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat.

Nugriyanto B, Gunawan & Marzuki. 2012. Statistik Terpadu untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Prayitno. T.A. 1996. Perekatan Kayu Bagian Penerbit. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Perekatan Kayu Sebagai Teknologi Hasil Hutan Masa Depan dan Perkembangannya. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fahutan UGM pada November 1997. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan UGM.

Hubungan Struktur Anatomi dan Wetabilitas dengan Keteguhan Rekat Kayu. Buletin Kehutanan no 42. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Perekatan Kayu, Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Robert G.D. Steel & J.H. Torrie. 1995. Prinsip Dan Prosedur Statistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Scharai. Red. 1983. Wood Testing. Samarinda: Terjemahan Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman.

Seng. O.D. 1990. Berat Jenis Dari Jenis-Jenis Kayu Indonesia Dan Pengertian Beratnya Kayu Untuk Keperluan Praktik. Bogor: Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Soewarsono PH. Pengumuman Puslitbang Hasil Hutan No. 13.

Soernadi. 1976. Sifat-Sifat Fisika Kayu. Yogyakarta: Yayasan Pembinaan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Steel&Torrie. 1995. Prinsip Dan Prosedur Statistik suatu pendekatan biometrik. Jakarta: PT Gramedia.

Syafii W. 1999. Pentingnya Penelitian Sifat-Sifat Dasar Kayu Dalam Rangka Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Sumber Daya Hutan. Bogor: Jurnal Teknologi Hasil Hutan Vol XII (1). Fakultas Kehutanan IPB.

Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. Jakarta: PROSEA – Gramedia.

Zobel B.J. & J.P. Van Bujitenen. 1989. Wood Variation Its Cause&Control. Springer Verlag Berlin Heidelber




DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jht.v4i2.3601

Article Metrics

Abstract view : 2907 times
PDF - 1665 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.