RESPON BAHAN STERILAN PADA EKSPLAN JELUTUNG RAWA (Dyra lowii)

Rodinah Rodinah, Fakhrur Razie, Dina Naemah, Adistina Fitriani

Abstract


Jelutung is a high economic value. Nature nursery jelutung problem is recalcitran seeds. Technology in vitro give solution for the supply of seeds in large quantities. The purpose of this research is to know the effect of sterilan material with jelutung eksplan, the best strilan and eksplan material. This study used Completely Randomized Design, Two factors. First factor of sterilized material (S); S1 = 70% alcohol, bayclin 20%, H2O2 17,6%, bayclin 10%; S2 = fungicide, bactericide, alcohol 70%, H2O2 17,6%, bayclin 20%; S3 = fungicide, bactericide, alcohol 70%, sublimate 0.2%, H2O2 17.6%, bayclin 20%; S4 = fungicide, bactericide, alcohol 70%, sublimate 0.2%, H2O2 17.6%, bayclin 10: s5 = fungicide, bactericide, 70% alcohol, sublimate 0.2%, H2O2 17.6%, bayclin 20% , Bayclin 10%. Second factor eksplan (E): e1= Leaf, e2 = nude. The research results obtained the smallest percentage of contamination on leaves and nudes on S5. The smallest percentage of browsed on S1 The highest percentage of live on S1. The smallest percentage of contamination on the leaves, while the lowest percentage browning on the nude and the highest live percentage on leaf explants.

Jelutung merupakan tanaman bernilai ekonomis tinggi. Pembibitan jelutung  terkendala  sifat benih  recalcitran.  Teknologi secara in vitro guna penyediaan bibit  dalam jumlah banyak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh bahan sterilan dengan eksplan jelutung dan bahan strilan dan eksplan yang terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dua faktor. Faktor pertama bahan sterilan (S); s1 = alkohol 70 %, bayclin 20 %, H2O2 17,6 %, bayclin 10 %  ; s2 = fungisida, bakterisida, alkohol 70 %, H2O2 17,6 %, bayclin 20 % ; s3 = fungisida, bakterisida, alkohol 70 %, sublimat 0,2 %, H2O2 17,6 %,bayclin 20 %; s4 = fungisida, bakterisida, alkohol 70 %, sublimat 0,2 %, H2O2 17,6 %,bayclin 10  : s5 = fungisida, bakterisida, alkohol 70 %, sublimat 0,2 %, H2O2 17,6 %, bayclin 20% ,bayclin 10 %.   Faktor kedua  eksplan (E) : e1 = daun, e2 = buku. Hasil  penelitian memperoleh persentase kontaminasi  terkecil pada daun dan buku  pada s5.    Persentase browning terkecil didaun   pada  s1  Persentase hidup tertinggi  pada s1. Persentase kontaminasi  terkecil pada daun, sedangkan persentase browning terendah pada buku dan persentase hidup yang tertinggi pada eksplan daun.


Keywords


Jelutung; sterilan; browning; kecoklatan

Full Text:

PDF

References


Bastoni dan A.H. Lukman. 2004. Prospek pengembangan Jelutung Rawa (Dyera lowii Hook.F) pada Lahan Rawa Sumatera. Dalam Prosiding Seminar Nasional Pembangunan Hutan Tanaman Berproduktivitas Tinggi dan Ramah Lingkungan. Badan Litbang Kehutanan. Yogyakarta. hlm. 11

Bastoni. 2014. Budidaya Jelutung Rawa (Dyera lowii Hook. F). Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Palembang. hlm. 2 & 10-12.

Bhojwani, S.S. dan M.K.Razdan. 1983. Plant Tissue Culture. Theory and Practice. Developmet in Crop Science 5. Amsterdam. Elsevier Press.

Fitriani, A. 2003. Kandungan Ajmalisin pada kultur kalus Catharanthus roseus.L.G.dan Setelah dielisitasi homogent jamur Pythium aphanidermatum edson fitzp. Makalah Pengantar Sains (PPS702). Program Pasca Sarjana / S3. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Gamborg, O.L. and J.P. Shyluk. 1981.Nutrition, media and characteristic of plant cell andtissue culture. In Thorpe, T.A. (ed) Plant tissue culture : Methods and application inagriculture. Academic Press. Inc. New York. hlm. 5

George, E. F. And Sherrington, P. D., 1984. Plant Propagation by Tissue Culture, Exergetice Ltd. England, pp. 284 – 309.

Gunawan, L.W. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Laboratoriun Kultur Jaringan Tanaman Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Direktorat Jenderakl Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hal 42-74

Hendromono. 2003. Peningkatan Mutu Bibit Pohon Hutan dengan Mengunakan Medium Organik danWadah yang Sesuai. Bulletin Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Vol. 4 No.2. hlm. 1.

Hendaryono, D. P. S., dan A. Wijayanti. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta. hlm. 4 & 21.

Santoso. U, dan F. Nursandi. 2001. Kultur Jaringan Tanaman. Universitas Muhammadiyah Malang. Hal 101 – 107

Sofiyuddin. M, Rahmanulloh A, dan Suyanto. 2012. Assessment of Profitability of Land Use Systems in Tanjung Jabung Barat District, Jambi Province, Indonesia. Open Journal of Forestry. hlm 1.

Wetter, L. R.,dan F. Constabel. 1991. Metode Kultur Jaringan Tanaman. ITB. Bandung. hlm. 12 & 16.

Widiastoety, D. 2001. Perbaikan Genetik dan Perbanyakan Bibit Secara In Vitro dalam Mendukung Pengembangan Anggrek Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian.

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Solusi Perbanyakan Tanaman Budidaya. Bumi Aksara. Hal 92-99.




DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jht.v4i3.3617

Article Metrics

Abstract view : 19 times
PDF - 40 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Hutan Tropis Indexed by :

    

 

Jurnal Hutan Tropis is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License