PENGEMBANGAN USAHA PEMBESARAN KEPITING BAKAU (Scylla spp) MELALUI SISTEM SILVOFISHERY
Abstract
Mangrove forest is a forest area on the coast. the type of fragile system that is very sensitive to environmental changes. Exploitation of mangrove forest resources uncontrolled will reduce the quality and quantity of these ecosystems. The purpose of this activity is IbM 1) providing knowledge and skills to the group of fish farmers about enlargement mudcrab with silvofishery system; 2) utilize the mangrove forest resources optimally and sustainably; and 3) increase value added and employment opportunities for coastal communities. Method activities include: 1) dissemination and demonstration; 2) monitoring and evaluation include early stage, middle and end of the program. The analysis shows a change in attitude and knowledge of the group of fish farmers who are less aware to be pretty much know about the cultivation of mangrove crab with the media cage. Enlargement of mud crabs in cages through silvofishery system can restrict the opening of mangrove forests. Besides these efforts provide opportunities for people, not just catch crabs from nature, but also the business of enlarging crab that can improve the quality of the crab be worth selling at high prices.
Ekosistem hutan mangrove merupakan kawasan hutan di wilayah pantai. dengan tipe sistem fragile yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Eksplotasi sumberdaya hutan mangrove yang tidak terkendali akan menurunkan kualitas dan kuantitas ekosistem tersebut. Tujuan kegiatan IbM ini adalah 1) memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada kelompok pembudidaya ikan tentang pembesaran kepiting bakau dengan sistem silvofishery; 2) memanfaatkan sumberdaya hutan mangrove secara optimal dan lestari; dan 3) meningkatkan nilai tambah dan peluang kerja bagi masyarakat pesisir. Metode kegiatan meliputi: 1) sosialisasi dan demonstrasi; 2) pemantauan dan evaluasi meliputi tahap awal, pertengahan dan akhir pelaksanaan program. Hasil analisis menunjukkan adanya perubahan sikap dan pengetahuan kelompok pembudidaya ikan dari yang kurang mengetahui menjadi cukup banyak mengetahui tentang budidaya kepiting bakau dengan media keramba. Pembesaran kepiting bakau dalam keramba melalui sistem silvofishery dapat membatasi pembukaan hutan mangrove. Selain itu usaha ini memberikan peluang usaha bagi masyarakat, tidak hanya menangkap kepiting dari alam, tetapi juga usaha pembesaran kepiting yang mampu meningkatkan kualitas kepiting menjadi layak jual dengan harga tinggi.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Ahmad, T., Haryanti dan A. Sudrajat. 2004. Analisis kebijakan revitalisasi pertambakan utara Jawa. Laporan proyek, Ringkasan eksekutif. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jakarta
Baliao, D.D., Rodriguez, and Gerochi, D.D. 1981. Culture of mud crab Scylla serrata (Forskall) at different stocking densities in brackish water pond. Quarterly Research Report SEAFDEC Aquaculture Departement. 5 (1): 10 – 14.
Cholik, F. dan Hanafi, A. 1992. A review of status of mangrove crab (Scylla sp) fishery and culture in Indonesia. In: C.A. Angell, (Editor), Report of the seminar on the mangrove crab culture and trade held at Surat Thani, Thailand. November, 5 Augustus 1991. Bay of Bengal Programme for Fisheries Development, Madras, India. Brackish water culture, Madras, India. BOBP. p. 13 – 27.
Fauzi, A. 2004. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi. PT.Gramedia Pustaka. Jakarta.
Herlinah, Sulaeman, dan A. Tenriulo. 2010. Pembesaran kepiting bakau (Scylla serrata) di tambak dengan pemberian pakan berbeda. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. p. 169 - 174.
Mardiana, W. Mingkid dan H. Sinjai. 2015. Kajian kelayakan dan pengembangan lahan budiaya kepiting bakau (Scylla spp.) di Desa Likupang II Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Budidaya Perairan. 3 (1): 154 – 164.
Putri, R.A., I. Samidjan dan D. Rachmawati. 2014. Performa pertumbuhan dan kelulusan hidup kepiting bakau (Scylla paramamosain) melalui pemberian pakan buatan dengan persentase jumlah yang berbeda. Journal of Aquaculture Management and Technology. 3 (4): 84 – 89.
Rangka, N.A. 2007. Status usaha kepiting bakau ditinjau dari aspek peluang dan prospeknya. Jurnal Neptunus. 14 (1): 90 – 100.
Sofia, L.A. 2011. Kelayakan finansial usaha budidaya kepiting soka di lahan tambak (Studi kasus di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut. Kalimantan Selatan). Jurnal Al’Ulum. 47 (1) : 29 – 35.
Sulaeman. 2005. Status perikanan kepiting bakau genus Scylla. Makalah Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat Pesisir di NTT Melalui Kegiatan Budidaya Perairan tanggal 20 – 21 Oktober 2005. Kupang Nusa Tenggara Timur.
Susanto, G.N. dan S. Murwani. 2006. Analisis secara ekologis tambak alih lahan pada kawasan potensial untuk habitat kepiting bakau (Scylla sp). Makalah Seminar Nasional Limnologi, Widya Graha LIPI Jakarta tanggal 5 September 2006. 10 pp.
Triyanto, N.I. Wijaya, T. Widiyanto, I. Yuniarti, Setiawan, dan F.S. Lestari. 2012. Pengembangan silvofishery kepiting bakau (Scylla serrata) dalam pemanfaatan kawasan mangrove di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Prosiding Seminar Nasional Limnologi VI. p. 739 – 751.
Wibowo, K dan T. Handayani. 2006. Pelestarian hutan mangrove melalui pendekatan mina hutan (silvofishery). Jurnal Teknik Lingkungan. 7 (3): 227 – 233.
DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jht.v4i3.3620
Article Metrics
Abstract view : 2957 timesPDF - 4565 times
Refbacks
- There are currently no refbacks.






