POTENSI JENIS SENGON (Falcataria moluccana (MIQ.) BARNEBY & J.W. GRIMES) DIPERBANYAK MELALUI TEKNIK VEGETATIF (STEK) Potency of Sengon ( Falcataria moluccana (MIQ.) BARNEBY & J.W. GRIMES) Propagation Throught Vegetative Technique (Cutting)

Dharmawati F. Djam’an, Kurniawati Purwaka Putri, Danu Danu

Abstract


The sengon plant (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) is the mainstay of community forests, especially in Java. During this time, the seed is used as material for seed production. However, at this time began to find a rust attack puru at the level of seedlings are allegedly carried by seed disease. Therefore, there is a need for other techniques to prevent transmission at the seedling level in the nursery. Vegetative technique is one that can be used to break the path of plant diseases by using healthy ingredients and free from disease. This research is aimed to know the potential of sengon plant to be propagated vegetatively, by cuttings method. The method of cuttings used is shoot cuttings and stem cuttings, and the source of cuttings derived from plants aged 1 and 2 years. The results showed that the highest live percentage was stem cuttings originating from 1 year old plant (34.66%), while the live percentage for stem cuttings originating from 2 year old plants was still very low (3.33%).

Keywords: Sengon Plant; Vegetative Propogation; Cutting Source


Tanaman sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) merupakan jenis andalan hutan rakyat, khususnya di Pulau Jawa. Selama ini, benih digunakan sebagai bahan untuk produksi bibit.  Akan tetapi, saat ini mulai ditemukan serangan karat puru pada tingkat semai yang disinyalir penyakit ini terbawa benih. Oleh karena itu perlu adanya teknik lain untuk mencegah penularan pada tingkat bibit di persemaian.  Vegetatif teknik merupakan salah satu yang dapat digunakan untuk memutus jalur penyakit tanaman dengan menggunakan bahan tanaman yang sehat dan bebas dari penyakit.  Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi tanaman sengon untuk diperbanyak  secara vegetative, dengan metode setek. Metode setek yang digunakan adalah setek pucuk dan stek batang, dan sumber bahan stek berasal dari tanaman yang berumur 1 dan 2 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup tertinggi adalah pada stek batang yang berasal dari tanaman berumur 1 tahun (34.66%), sedangkan persentase hidup untuk stek batang yang berasal dari tanaman umur 2 tahun masih sangat rendah (3,33%).

Kata kunci: Tanaman sengon, perbanyakan vegetative, sumber bahan setek


Keywords


Sengon Plant; Vegetative Propogation; Cutting Source

Full Text:

PDF

References


Anggraeni, I. 2010. Pengendalian Penyakit Karat Tumor (Gall Rust) Pada Sengon (Paraserianthes Falcataria) Di RPH Pandantoyo, BKPH Pare, KPH Kediri. Makalah Workshop Penanggulangan Serangan Karat Puru pada Tanaman Sengon 19 Nop 2008.Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Bhardvaj dan V.K. Mishra, 2005 Vegetative propagation of Ulmus villosa: effects of plant growth regulators, collection time, type of

donor and position of shoot or adventitious root formation in stem cutting. New Forest 29:105-106. Abstract

Bramasto, Y., M. Zanzibar, Danu, 2015 Informasi Awal Identifikasi Cendawan Karat Puru Terbawa Benih Sengon Pengaruhnya Terhadap Perkecambahan. Prosiding Seminar Teknologi Perbenihan, Silvikultur dan Kelembagaan dalam Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan. Bandar Lampung 11 Agustus 2015.

Danu dan Kurniawati P.Putri 2015 Penggunaan media dan hormone tumbuh dalam perbanyakan stek bamabng lanang

(Michelia champaca L.) Jurnal Perbenihan Tanaman Hutan. 3(2). H. 60-70.

Djam’an, D.F. Eva Yuswita dan Mita Diantina 2014. Perbenyakanulin (Eusideroxylon zwageri T. et B.) melalui cangkok. Prosiding Seminar Nasional Pengarusutamaan Lingkungan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam: Tantangan Dalam Pembangunan Nasional.

Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, IPB.

Erdağa, B.B., Y.C. Emek dan S.K. Ayedoğan 2010. Clonal propagation of Dorystoechas hastatavia axillary shoot proliferation. Turk. J. Bot.34. 233-240.

Handbrick, C.E.III, H.T. Jr. Davies dan H.B. Perberton 1994. Growing Media for Ornamental Plant and Turf.University of New South Wales Press. Randwich NSW, Australia. 448 p..

Hartmann, H.T., D.E. Kester dan F.T. Davies Jr. 2002. Plant Propagation.Principle and Practices.8th Ed. Prentice Hall. Sâo Paulo.

Lazreg, L. Belabid, J. Sanchez, E. Gallego dan B. Bayaa. 2014. Pathogenicity of Fusarium spp. Associated with Diseases of Aleppopine Seedling in Algerian Forest Nurseries. Journal of Forest Science 60 (3) : 115 – 120.

Pramono A.A. 2008. Pengaruh tinggi pemangkasan pohon induk dan diameter pucuk terhadap perakaran stek benuang bini. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol 5. Suplemen No. 1.:229-236.

Pramono A.A. dan K.P. Putri 2013 The effect of stock plat type and IBA dosage on the rooting of neem (Azadarach indica) shoot cutting. Proceeding of the 2ndINAFOR. International Conferenceof Indonesia Forest Researchers.Ministry of Forest Research and Development Agency. P:600-609.

Soebiakto, A.,Chikaya Sakai, Hani Nuroniah and Sunaryo 2001. Revolving Cutting Technique (RCT) for producing cutting material without establishing a hadge orchard.In situand Ex situ Consevation of Commercial Tropical Trees. Gajah Mada University and ITTO. Jogyakarta p 525.

Zobelt, B dan TalbertJ. 1991. Applied Forest Tree Improvement.Waveland Press Inc. Prospect Height. Illinois.




DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jht.v6i1.5100

Article Metrics

Abstract view : 2366 times
PDF - 1344 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.