PENINGKATAN KANDUNGAN PROTEIN MIE BASAH DENGAN PENAMBAHAN DAGING IKAN BELUT (Monopterus albus Zuieuw)

Candra Candra, Hafni Rahmawati

Sari


Tujuan riset ini adalah mempelajari pengaruh penambahan daging ikan belut (Monopterus albus Zuieuw) terhadap karakteristik kimia dan organoleptik mie basah. Mie basah yang beredar di pasaran memiliki kandungan nutrisi kurang baik, yaitu kadar airnya mencapai 52% sehingga daya awet rendah hanya bisa bertahan 40 jam pada suhu ruang, berbau asam, berlendir dan kadar protein rendah (4%). Penambahan daging ikan belut pada mie basah sebanyak 4 taraf yaitu 0; 1,5; 3; dan 4,5 %. Data hasil menunjukan peningkatan signifikan (p<0,05) untuk kadar protein, lemak dan abu. Sedangkan pada kadar air dan karbohidrat terjadi perubahan signifikan (p<0,05). Berdasarkan data hasil uji organoleptik, peningkatan signifikan (p<0,05) untuk nilai rasa dan aroma, tetapi terjadi penurunan signifikan pada nilai tekstur dan warna (p<0,05).

Kata kunci : belut, mie basah, organoleptic, protein.

 

The object of the research was studying wet noodle chemistry and organoleptic characteristic adding with eel (Monopterus albus Zuieuw) meat. Wet noodles in the market have a low nutrition. That were low protein (4%), high moisture (52%), short durrability (40 hours) in room temperature, sour odor and much mucus. The treatment for wet noodles adding with eel meat have 4 levels (0; 1,5; 3; and 4,5 %). The result were significant (p<0,05) increased for protein, lipid, and ash, but  significant (p<0,05) changed for moisture and carbohydrate. Organoleptic characteristic were showed significant (p<0,05) increased for taste and odor specifications, but significant (p<0,05) decreased for texture and color.

Key words : eel meat, organoleptic, protein, wet noodle.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Hoseney, R.C. (1994). Principles of Cereal Science and Technology. American Assoc. of Cereal Chemists, Inc. St. Paul.

Mualim A., Susi L., Siti H.R.J. Kandungan Gizi dan Karakteristik Mi Basah dengan Subtitusi Daging Keong Mas (Pomacea canaliculata). Jurnal Fishtech. 2(1),74-82.

Nakai, S., dan Modler, H.W. (2000). Food Proteins Processing Applications. Toronto : Wiley-VCH.

Nuruddin. (2007). Belut : Dari Lumur Masuk Dapur dalam Trobos, Bumi Memanas Peternakan Waswas. No 98 November 2007 Tahun VIII. Jakarta : PT. Galur Prima Cobb Indonesia.

Purnomo., 1995. Aktivitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta.

Satyajaya, W.O. dan Nawansih., (2008). Pengaruh Konsentrasi Chitosan sebagai Bahan Pengawet terhadap Masa Simpan Mie Basah. Jurnal Teknologi dan Industri Hasil Pertanian. 13(1), 17-24.

Sarwono., 2003. Budidaya Belut dan Sidat. Jakarta : Penebar Swadaya.

Widiatmoko, R.B., dan Teti, E. (2015). Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Mie Kering Berbasis Tepung Ubi Jalar Ungu pada Berbagai Tingkat Penambahan Gluten. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 3(04),1386-1392.

Widianingsih, T.D., dan Murtini, E.S. (2006). Alternatif Pengganti Formalin pada Bahan Pangan. Surabaya : Trubus Agrisarana.


Article Metrics

Sari view : 75 times
PDF - 1101 times

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Creative Commons License

Jurnal Jukung by http://ppjp.unlam.ac.id/journal/index.php/jukung is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 

web
counter View My Stats