Evaluasi Pelayanan Swamedikasi Di Apotek Wilayah Sidoarjo

Khurin In Wahyuni, Nanda Erika Permatasari, Djelang Zainuddin Fickri, Adinugraha Amarullah

Abstract


ABSTRAK

 

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang bertanggungjawab langsung kepada pasien yang saat ini telah bergeser orientasinya dari obat (drug oriented) ke pasien (patient oriented) yang mengacu kepada Pharmaceutical care. Salah satu pelayanan kefarmasian di apotek adalah pelayanan swamedikasi. Menurut Menteri Kesehatan No. 919 Menkes/Per/X/1993, swamedikasi merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan oleh seseorang dalam mengobati gejala atau penyakit yang dideritanya tanpa terlebih dahulu konsultasi kepada dokter. Apoteker memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan bantuan berupa nasehat dan petunjuk kepada yang melakukan swamedikasi agar pasien dapat melakukan swamedikasi secara bertanggungjawab. Apoteker juga harus menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error). Oleh sebab itu apoteker dalam menjalankan praktek harus sesuai dengan standar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan pelayanan swamedikasi di beberapa apotek wilayah Sidoarjo yang sesuai Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014. Teknik penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode sampling yaitu purposive sampling, dengan kriteria apoteker yang bekerja di apotek wilayah Sidoarjo yang bersedia mengisi kuisioner. Dari kriteria tersebut didapatkan 34 sampel apotek yang tersebar di 10 kecamatan di wilayah Sidoarjo. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah kuisioner yang telah diuji menggunakan uji validitas rupa dan isi, serta uji reliabilitas dengan metode Cronbach’s Alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014 belum dilaksanakan secara menyeluruh di apotek-apotek wilayah Sidoarjo dengan rata-rata persentase pelaksanaan pelayanan sesuai Standar masih 75,83 %.

 

Kata kunci: drug oriented, patient oriented, Pharmaceutical care, medication error, Swamedikasi.

 

 

 

 

ABSTRACT

 

Pharmaceutical care is integral part of care health responsible directly to patients who currently have its orientation shifts from drug oriented to patient oriented refer to Pharmaceutical care. One of the pharmaceutical care at a pharmacy is a self-medication care. According to the Minister of Health No. 919 Minister of Health/Per/X/1993, self medication is one of the frequent efforts done by someone in treating the symptoms or illnesses they suffer without first consulting a doctor. Pharmacists have a role very important in providing assistance in the form of advice and guidance to who do swamedication so that patients can do swamedication to be responsible. Pharmacists must also be aware of the possibility of this happening medication error. Therefore the pharmacist in practice must be in accordance with standards. This research aimed at knowing the description of the implementation of self-medication care in several pharmacies Sidoarjo region in accordance with Pharmaceutical Care Standards in Pharmacy based on Minister of Health Regulation No. 35 of 2014. Research technique the method used is descriptive with a sampling method that is purposive sampling with criteria for pharmacists who work in the Sidoarjo region pharmacies willing to fill in the questionnaire. From these criteria, 34 pharmacy samples were obtained which is spread in 10 sub-districts in the Sidoarjo region. The instrument used for date collection is a questionnaire that has been tested using the test the validity of appearance and content, as well as the reliability test using the Cronbach’s Alpha method. Results research shows that Pharmaceutical Care Standards in Pharmacy based on Minister of Health Regulation No. 35 of 2014 has not been implemented as a whole in the pharmacies in the Sidoarjo region with an average percentage care delivery according to the Standards is still 75.83%.

 

Keywords: drug oriented, patient oriented, Pharmaceutical care, medication error, Self-medication care.


Full Text:

PDF

References


Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Lap Nas 2013. -384.

Baxter K. 2006. Book Review: Stockley’s Drug Interactions, 7th Edition. Ann Pharmacother. 40(6):1219-1219. doi:10.1345/aph.1g691Blenkinsopp A, Paxton P, Blenkinsopp J. 2005. Symptoms in the Pharmacy: A Guide to the Management of Common Illness.;

Departemen Kesehatan RI. 2008. Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care). 1-37. doi:10.1017/CBO9781107415324.004

Departemen Kesehatan RI. 2009. Undang Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009

Diana M. Collett, Aulton ME. 1990. Drug Information. Pharmaceutical Practice. Edinburgh: Churchill Livingstone;

Hardjasaputra PSL. 2002.. Data Obat Di Indonesia. Grafidian Medipress.Jakarta

Hartini, Y.S dan S. 2006. Apotek : Ulasan Beserta Naskah Peraturan Perundang- Undangan Terkait Apotek,. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Kemenkes RI. Jakarta

Muharni S, Aryani F, Mizanni M. 2015. Gambaran Tenaga Kefarmasian Dalam Memberikan Informasi Kepada Pelaku Swamedikasi di Apotek-Apotek Kecamatan Tampan, Pekanbaru. J Sains Farm Klin. ;2(1):47. doi:10.29208/jsfk.2015.2.1.46

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/Sk/Ix/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2004;(3):1-21.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas. 2014;2014(June):1-2. doi:10.1038/132817a0

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. Kemenkes RI. Jakarta

Osemene KP, Lamikanra A. 2012. A study of the prevalence of self-medication practice among university students in southwestern Nigeria. Trop J Pharm Res. 2012;11(4):683-689. doi:10.4314/tjpr.v11i4.21

Sari. 2004. Penelitian Farmasi Komunitas Dan Klinik . Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, Hal 3.

Mashuda A. 2011. Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian Yang Baik - Good Pharmacy Practice (GPP). In: Jurnal Pelayanan Kefarmasian. ; 2011:82.

WHO. 1997. The Role Of The Pharmacist In The Health Care System. 1997:1-52




DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jps.v7i1.8083

Article Metrics

Abstract view : 90 times
PDF - 114 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Pharmascience Published BY:

Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat

Jurnal Pharmascience is indexed by:


 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.