Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dan Implementasinya oleh Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Kota Banjarmasin-Banjarbaru Tahun 2019

Baharuddin Yusuf, Christina Avanti

Abstract


Rantai distribusi obat di Indonesia tidak lepas dari keterlibatan Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan telah diatur kualitasnya dalam Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Saat ini, BPOM menetapkan aturan kepada PBF untuk menerapkan standar aturan CDOB dengan mengeluarkan surat edaran No. B-HK 06.3.341.12.18.7023 pada tahun 2018 tentang percepatan pengajuan aplikasi untuk sertifikasi CDOB. Semua PBF di Indonesia harus mematuhi surat edaran tersebut untuk menjamin kualitas dan keamanan rantai distribusi obat, termasuk di kota Banjarmasin-Banjarbaru. Telah dilakukan penelitian untuk mendapatkan informasi terkait implementasi aturan CDOB oleh PBF di Banjarmasin-Banjarbaru pada tahun 2019. Data penelitian diambil pada bulan Januari-Februari 2020. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara dengan 30 responden dari 30 PBF. Dari hasil penelitian didapatkan informasi bahwa 26 PBF (86,7%) telah menerapkan lebih dari 80% aspek CDOB. 3 PBF (10%) menerapkan 65%-80% aspek CDOB dan 1 PBF (3,3%) menerapkan 50%-64% aspek CDOB. Dapat disimpulkan bahwa PBF Banjarmasin-Banjarbaru telah menerapkan aspek CDOB pada kegiatan distribusi produk. Implementasi CDOB pada PBF perlu senantiasa dimonitor, beberapa PBF masih perlu meningkatkan kualitas implementasi CDOB untuk menjamin mutu produk farmasi.

 

The drug distribution chain in Indonesia cannot be separated from the involvement of Pharmaceutical Wholesalers (PWS) and its quality has been regulated in Good Distribution Practice (GDP). National Drug and Food Act (NDFA) sets rules for pharmaceutical wholesaler to apply the standard of GDP by issuing a circular letter No. B-HK 06.3.341.12.18.7023 in 2018 concerning the acceleration of submission for GDP certification. Pharmaceutical wholesaler in Indonesia must comply with the circular to guarantee the quality and safety of the drug distribution chain, including in the city of Banjarmasin-Banjarbaru. Research has been conducted to obtain information related to the implementation of GDP rules by pharmaceutical wholesalers in Banjarmasin-Banjarbaru in 2019. The data were taken in January-February 2020 and collected using questionnaires and interviews to 30 respondents from 30 PWS. From the research results it is known that 26 PWS (86.7%) have applied more than 80% of GDP aspects. 3 PWS (10%) applied 65%-80% of GDP aspects and 1 PWS (3,3%) applied 65%-80% of GDP aspects. It can be concluded that the Banjarmasin-Banjarbaru PWS has implemented the GDP aspect in product distribution activities, however GDP implementation in PWS needs to be monitored continuously. Some PWSs still need to improve the quality of GDP implementation to ensure the quality of pharmaceutical products.

Keywords: CDOB, Pharmaceutical Wholesalers, Banjarmasin, Banjarbaru


Keywords


CDOB; PBF; Banjarmasin; Banjarbaru

Full Text:

PDF

References


Agustyani, V. (2015). Evaluasi Penerapan CDOB Sebagai Sistem Penjaminan Mutu Pada Sejumlah PBF Di Surabaya. Universitas Airlangga.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pedoman Pengelolaan Prekursor Farmasi dan Obat Mengandung Prekursor Farmasi, Pub. L. No. 40 Tahun 2013, 1 (2013).

Badan Pengawas Obat dan Makanan. Tata Cara Sertifikasi Cara Distribusi Obat Yang Baik, Pub. L. No. 25 Tahun 2017, 1 (2017). Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2018a). Siaran Pers PBF Wajib Sertifikasi CDOB. Diambil 30 Oktober 2019, dari https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/413/SIARAN-PERS-PBF-WAJIB-SERTIFIKASI-CDOB.html

Badan Pengawas Obat dan Makanan. Perubahan Atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 9 Tahun 2019 Tentang Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat Yang Baik, Pub. L. No. 6 Tahun 2020, 1 (2020). Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan, R. I. (2018b). E-Sertifikasi Permudah PBF Penuhi Kewajiban Sertifikasi CDOB. Diambil 2 Juni 2020, dari https://www.pom. go.id/new/view/more/berita/14478/E-Sertifikasi-Perm udah-PBF-Penuhi-Kewajiban-Sertifikasi-CDOB.html

Badan Pengawas Obat dan Makanan, R. I. Surat Edaran No. B-HK. 06.3.341.12.18.7023 Percepatan Pengajuan Permohonan Sertifikasi CDOB, Pub. L. No. B-HK. 06.3.341.12.18.7023, Badan Pengawas Obat dan Makanan 1 (2018). Diputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif.

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. (2018). Indikator Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2017. Banjarbaru.

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. (2020). Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka. (Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik, Ed.). Banjarmasin: CV. Karya Bintang Musim.

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan. (2018). Laporan Kinerja 2017 BBPOM di Banjarmasin. Banjarmasin.

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan. (2019). List Pedagang Besar Farmasi Banjarmasin - Banjarbaru Tahun 2019. Banjarmasin.

Kristanti, M. W., & Ramadhania, Z. M. (2020). Evaluasi Kesesuaian Sistem Penyimpanan Obat, Suplemen, dan Kosmetik Eceran pada Salah Satu Gudang Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Jakarta Pusat. Majalah Farmasetika, 5(2), 49.

Lee, M. Y., Wang, H. S., & Chen, C. J. (2019). Development and Validation of the Social Adjustment Scale for Adolescents with Tourette Syndrome in Taiwan. Journal of Pediatric Nursing, 51, e13–e20.

Menteri Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Pedagang Besar Farmasi, Pub. L. No. 1148/MENKES /PER/VI/2011, 1 (2011). Berita Negara Republik Indonesia.

Presiden, I. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, Pub. L. No. Nomor 51 tahun 2009,

Sekretariat Negara 1 (2009). Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Purwanto, F. (2018). Marak pelanggaran sertifikasi CDOB diperkuat -The Quality Magazine Portal Mutu No 1. Diambil 29 Juli 2019, dari http://www.thequality.co.id/ index.php/home/post/893/marak-pelanggaran-sertifikasi -cdob-diperkuat

Sujarweni, V. W. (2015). Statistika Untuk Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.

Tiasari, N. (2016). Evaluasi Pelaksanaan Cara Distribusi Obat Yang Baik Pada Pedagang besar Farmasi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2016. Yogyakarta.




DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jps.v7i2.8992

Article Metrics

Abstract view : 452 times
PDF - 149 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Pharmascience Published by:

Program Studi Farmasi Universitas Lambung Mangkurat

Banjarbaru, Indonesia

 

Jurnal Pharmascience is indexed by:

      

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.