Tradisi Mahanyari Kalambu Di Desa Tambalang Kecil Kecamatan Sungai Pandan Kabupaten Hulu Sungai Utara

Muhammad Rizki, Yuli Apriati, Laila Azkia

Abstract


Tradisi mahanyari kalambu adalah kebiasan masyarakat mengadakan acara sebelum pesta perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mendalami prosesi dalam tradisi. (2) untuk menemukan makna yang terkandung dalam tradisi di Desa Tambalang Kecil, Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data dipilih secara Purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dengan 5 informan, dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosesi dalam pelaksanaan tradisi Mahanyari Kalambu terbagi menjadi 3 tahap, (a) Persiapan, terdiri dari membeli Peralatan kalambu, mencari perias kalambu, mencari petugas saruan (mengundang warga), menyiapkan bahan-bahan untuk acara, dan Menyiapkan Pinduduk. (b) Pelaksanaan, terdiri dari undangan hadir berkumpul, Pinduduk diletakkan di atas kasur (di bawah kasur), Air putih, bubur habang dan putih/hijau diletakan di atas Kasur (di bawah kasur), membaca ayat-ayat Al Qur’an, pembacaan do'a, menyajikan hintalu karuang, (c) Penutup, terdiri dari prosesi perkawinan selanjutnya (Bamumula), setelah selesai acara resepsi (mempelai tidur di kasur kalambu baru) Pinduduk akan di masak seperti olahan kue atau di campur dengan makanan untuk dibacakan do'a selamat dan di makan bersama-sama keluarga internal. Makna dari tradisi mahanyari kalambu sebagai ikhtiar dalam bentuk do’a agar acara diberikan kelancaran oleh Allah dan dimudahkan. Merekatkan, sebagai kebiasaan yang terus menerus dilakukan sejak zaman dulu, sebagai upaya untuk mencegah dari gangguan makhluk halus (dunia lain), dan ketan dimaknai sebagai simbol agar kelak rekat sampai tua, gula aren yang dibungkus daun dengan harapan mempelai mendapat jalan hidup yang manis, dan ketan dimaknai sebagai simbol agar kelak kerekatan pasangan sampai tua.

Keywords


Tradisi, Prosesi, Makna Mahanyari Kalambu

Full Text:

PDF

References


Aminuddin. (1998). Semantik. Sinar Baru.

Azhar, A. (1986). Upah-Upah Upacara Tradisi Orang Tambusai. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Melayu Depdikbud RI.

Cavallaro, D. (2004). Teori Kritis dan Teori Budaya. Niagara.

Chaer, A. (1994). Linguistik Umum. Rineka Cipta.

Daud, A. (1997). Diskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. PT Raja Grafindo Persada.

Peursen, C. A. Van. (1988). Strategi Kebudayaan. Kanisius.

Piotr, S. (2007). Soiologi Perubahan Sosial. Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh Alimandan. Prenada Media Grup.

Saifuddin, A. F. (2005). Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Kencana.

Stephanie Prisilia, D. (2011). Makna Daeng Dalam Kebudayaan Suku Makasar. Jurnal Publikasi Antropologi FISIP-Universitas Airlangga Surabaya.

Suyanto. (2006). Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Prenada Media Grup.

Wardani. (2010). Variasi Makna pada terjemahan Surat Al-Mursalat. Universitas Muhammadiyah Surakarta.




DOI: https://doi.org/10.20527/jtamps.v1i2.4193

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


JTAMPS Telah Terindeks Oleh :

    

JTAMPS Flag Counter Sejak Desember 2022:

Flag Counter 

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.