Nilai Kearifan Lokal Budaya Tiwah Masyarakat Dayak Ngaju Dalam Presfektif Pendekatan Ekologi
Abstract
Masyarakat lokal kalimantan secara umum memiliki keragaman budaya yang sangat unik. Faktual di lapangan menjelaskan bahwa kepercayaan masyarakat lokal menyimpan unsur-unsur budaya dalam wadah kearifan lokal masyarakat dayak yang banyak kita jumpai dalam bentuk linguistik maupun nonverbal yang dipadukan serta disinergikan secara kreatif untuk menjaga dan memelihara lingkungan dengan tujuan manusia dan alam mencapai keserasian dan keselarasan. Ritual tiwah memiliki makna tersendiri jika dikaji dengan konteks pendekatan geografi, karena kajian ilmu geografi sendiri tak terbatas hanya pada kajian fisik saja, akan tetapi aktivitas masyarakat, perkembangan budaya maupun hal-hal subtansial yang terkait pada pergerakan dan persebaran baik itu dalam konteks abstraksi maupun faktual yang menjadi unsur utama dalam kajian ilmu geografi. Korelasi budaya tewah dengan pendekatan ekologi merupakan suatu perspektif mengenai metodologi dalam mempelajari perkembangan kepribadian yang mempertimbangkan aspek-aspek di luar individu, yaitu dari sisi lingkungan di mana individu berada. Pada ritual tiwah sendiri memiliki presfektif ekologi dengan melihat manusia sebagai bagian dari suatu sistem yang berjalan di muka bumi ini.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Al-Kumayi, S. (2011). Islam bubuhan Kumai: perspektif varian awam, nahu, dan hakekat. Pustaka Zaman.
Anjani, T. L. (2020). Fungsi tari manganjan dalam upacara tiwah suku dayak ngaju di kabupaten gunung mas provinsi kalimantan tengah. joged: Jurnal Seni Tari, 16(2), 176–187.
Dyson, L., & Asharini, M. (1980). Tiwah upacara kematian pada masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Efendi, M., Sahrul, M., & Salma, S. (2020). Nilai Kearifan Lokal Tradisi Manugal Masyarakat Dayak Meratus Kalimantan Selatan Pada Materi Geografi Bidang Lingkungan Hidup (Kajian Etnografi). PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi), 2(2), 260.
Garbarino, J., & Abramowitz, R. H. (1992). The family as social system. Children and Families in the Social Environment, Aldine de Gruyter, (New York).
Iban, C., & Elfrida, T. (2017). Arsitektur Religi Pesta Tiwah Dayak Ngaju Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Kalimantan Tengah. ATRIUM: Jurnal Arsitektur, 3(2), 101–112.
Indonesia, K. B. B. (2008). Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Miles, B. M., & Huberman, M. A. (2007). Analisis Data Kualitatif (Alih bahasa oleh Tjetjep Rohendi. Jakarta: UI Press.
Njatrijani, R. (2018). Kearifan Lokal Dalam Perspektif Budaya Kota Semarang. Gema Keadilan, 5(1), 16–31.
Nugraha, S., & Wardani, T. D. (2021). Penerapan Pali Dalam Ritual Tiwah Dayak Ngaju. Anterior Jurnal, 20(2), 102–112.
Resviya, R. (2020). Tradisi Bapalas Bidan dan Dinamikanya pada Masyarakat Suku Dayak Bakumpai Di Kabupaten Barito Selatan. Meretas: Jurnal Ilmu Pendidikan, 7(1), 94–103.
Rumidi, S. (2012). Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula. Yogyakarta: Gajah Mada Universiti.
Saputri, C. I., Ardianto, D. T., & Srisanto, E. (2016). Perancangan Film Dokumenter Tradisi Keagamaan Upacara Tiwah Suku Dayak di Kalimantan Tengah. Jurnal DKV Adiwarna, 1(8), 7.
Setyaningrum, N. D. B. (2018). Budaya lokal di era global. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Karya Seni, 20(2), 102–112.
Sugiyono. (2008). Metode penelitian pendidikan:(pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R & D). Alfabeta.
Swandi, N. K. (2009). Siklus hidup dalam agama lokal: studi komparasi ajaran selingkar hidup kaharingan dan gawe urip-gawe pati islam wetu telu. UIN Syarif Hidayatullah.
DOI: https://doi.org/10.20527/padaringan.v4i2.5487
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.
Padaringan Indexed By :

The work is distributed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



.png)