Pemanfaatan Lahan Gambut Di Kawasan Transmigran Desa Sidomulyo Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala
Abstract
This study aimed to obtain data on the use and utilization of peatlands that the government has provided to meet their daily needs. Peatlands, which are very difficult to manage, challenge transmigrant communities to turn them into productive land. The method used was qualitative with a descriptive approach to reveal the facts in the field. Data collection used interviews, document studies, and direct observation of the field. Based on the data, it is known that the transmigrant community used peatland for mixed gardens, with 1010 plots of land used for seasonal crops (vegetables, oranges and rice) and perennials (rubber, oil palm and coconut), 480 plots of land were for settlements, and as many as 32 plots of land were used for mosques, cemeteries and schools. This data was obtained from the National Land Agency (BPN) Kab. Barito Kuala, interviews, and direct observations with the people who cultivate the land. The results obtained explain that the use of peatlands by transmigrants was certainly an illustration that peatlands could still be used as productive and comfortable land to be used as settlements/residences and for community livelihoods. With proper management, the use of peatland would provide great benefits, not only for the present but also for the future.
Keywords: Peatlands; Transmigran Community; Utilization
Penelitian ini bertujuan memperoleh data mengenai penggunaan dan pemanfaatkan lahan gambut yang telah diberikan oleh pemerintah guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Lahan gambut yang notabennya sangat sulit dikelola menjadi tantangan bagi masyarakat transmigran untuk menjadikannya lahan produktif. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mengungkap fakta yang terdapat di lapangan. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, studi dokumen, dan observasi langsung ke lapangan. Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa masyarakat transmigran menggunakan lahan bergambut untuk kebun campuran yaitu sebanyak 1010 bidang tanah digunakan untuk tanaman musiman (sayuran, jeruk dan padi) dan tanaman keras (karet, sawit dan kelapa), 480 bidang tanah untuk permukiman, dan sebanyak 32 bidang tanah yang digunakan untuk masjid/langgar, kuburan, dan sekolah. Data ini diperoleh dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Barito Kuala, wawancara, dan observasi langsung dengan masyarakat yang mengolahan lahan tersebut. Hasil yang diperoleh menerangkan bahwa penggunaan lahan bergambut oleh masyarakat transmigran tentu menjadi gambaran bahwa lahan gambut masih bisa dijadikan lahan yang produktif dan nyaman untuk dijadikan permukiman/tempat tinggal serta untuk penghidupan masyarakat. Dengan pengolahan yang tepat, pemanfaatan lahan bergambut dapat bermanfaat dengan baik secara berkelanjutan.
Kata Kunci: Lahan Gambut; Masyarakat Transmigran; Pemanfaatan
Full Text:
PDFReferences
Agus, F., & Subiksa, I. G. M. (2008). Lahan gambut: Potensi untuk pertanian dan aspek lingkungan. Balai Penelitian Tanah Dan World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor.
Anggraeni, E. D., Purnomo, E., & Pargito, P. (2017). Kalirejo dalam perspektif geografi (studi kasus daerah transmigrasi). Jurnal Studi Sosial, 5(4), 1-10.
Arisanty, D., Adyatma, S., Muhaimin, M., & Nursaputra, A. (2019). Landsat 8 OLI TIRS Imagery ability for monitoring post forest fire changes. Pertanika Journal of Science & Technology, 27(3).
Arisanty, D., Anis, M. Z. A., Putro, H. P. N., Hastuti, K. P., & Angriani, P. (2021). Social vulnerability of land fires in Banjarbaru. Proceedings of the 2nd International Conference on Social Sciences Education (ICSSE 2020), 525(Icsse 2020), 262–265.
Arisanty, D., Jędrasiak, K., Rajiani, I., & Grabara, J. (2020). The destructive impact of burned peatlands to physical and chemical properties of soil. Acta Montanistica Slovaca, 25(2), 213–223.
Bustami, B., Sufardi, S., & Bakhtiar, B. (2012). Serapan Hara dan Efisiensi Pemupukan Phosfat Serta Pertumbuhan Padi Varietas Lokal. Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan, 1(2), 159–170.
Dahlan, H. M. (2014). Perpindahan penduduk dalam tiga masa: kolonisasi, kokuminggakari, dan transmigrasi di Provinsi Lampung (1905-1979). Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. Patanjala, 6(3), 335-348.
Dariah, A., Maftuah, E., & Maswar. (2013). Karakteristik lahan gambut: Panduan pengelolaan berkelanjutan lahan gambut terdegradasi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Firmasyah, M. A., & Mokhtar, M. S. (2011). Kearifan lokal pemanfaatan lahan gambut untuk usaha tani dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim di kalimantan tengah. Di Dalam: Workshop Nasional Adaptasi Perubahan Iklim Di Sektor Pertanian, 8.
Nugraheni, F. M., & Indarja, E. S. P. (2016). Pelaksanaan pemerintahan desa Di Desa Madu Kabupaten Boyolali menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa. Diponegoro Law Journal, 5(3), 1-16.
Koestoer, R. H. (2001). Dimensi keruangan kota: teori dan kasus. Jakarta: Universitas Indonesia.
Masganti, M., Anwar, K., & Susanti, M. A. (2017). Potensi dan pemanfaatan lahan gambut dangkal untuk pertanian.
Masganti, M., Wahyunto, W., Dariah, A., Nurhayati, N., & Yusuf, R. (2014). Karakteristik dan potensi pemanfaatan lahan gambut terdegradasi di Provinsi Riau. Jurnal Sumberdaya Lahan, 8(1).
Nova, Y. (2016). Dampak transmigrasi terhadap kehidupan sosial masyarakat: studi sejarah masyarakat timpeh dharmasraya. Jurnal Ilmu Sosial Mamangan, 5(1), 23–36.
Nurlinda, I. (2016). Telaah atas materi muatan rancangan undang-undang pertanahan. Jurnal Bina Mulia Hukum, 1(1), 1-13.
Pewista, I., & Harini, R. (2013). Faktor dan pengaruh alih fungsi lahan pertanian terhadap kondisi sosial ekonomi penduduk di kabupaten bantul. kasus daerah perkotaan, pinggiran dan pedesaan Tahun 2001-2010. Jurnal Bumi Indonesia, 2(2), 96-103.
Putra, D. R., & Pradoto, W. (2016). Pola dan faktor perkembangan pemanfaatan lahan Di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Jurnal Pengembangan Kota, 4(1), 67-75.
Rochaida, E. (2016). Dampak pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan. In Forum Ekonomi, 18(1), 14-24.
Sabiham, S., Lahan, S., & Sukarman, S. (2012). Pengelolaan lahan gambut untuk pengembangan kelapa sawit di Indonesia, 6(2), 55-66.
Sasli, I. (2011). Karakterisasi gambut dengan berbagai bahan amelioran dan pengaruhnya terhadap sifat fisik dan kimia guna mendukung produktivitas lahan gambut. Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi, 4(1), 42–50.
Sitorus, S. R. P. (2018). Perencanaan Penggunaan Lahan. PT Penerbit IPB Press.
Utoyo, S. (2012). Dinamika penggunaan lahan di wilayah perkotaan (Studi di Kota Bandar Lampung). Prosiding Seminar Hasil Penelitian FISIP Unila.
Wahyunto, N. K., Ritung, S., & Sulaeman, Y. (2014). Indonesian peatland map: method, certainty, and uses. Proceeding Lokakarya Kajian Dan Sebaran Gambut Di Indonesia, 81–96.
Wibowo, A. (2010). Konversi hutan menjadi tanaman kelapa sawit pada lahan gambut: implikasi perubahan iklim dan kebijakan. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 7(4), 251-260.
Yulianti, N., Adji, F. F. (2018). Mari belajar tentang pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB). Bogor: IPB Press.
Yulianti, N. (2018). Pengenalan bencana kebakaran dan kabut asap lintas batas (studi kasis eks proyek lahan gambut sejuta hektar. Bogor: IPB Press.
DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jvk.v36i2.10282
Article Metrics
Abstract view : 825 timesPDF - 433 times
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2021 Vidya Karya
Indexed By

Vidya Karya is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




.png)
.jpg)

