HOMONIMI DAN AMBIGUITAS FONETIK DALAM MAHALABIU (HOMONYMY AND AMBIGUITY PHONETIC IN MAHALABIU

Lastaria Lailatul Fithriyah Azzakiyah

Abstract


Abstract
Homonymy and Ambiguity Phonetic in Mahalabiu. Homonymy is a form of words
that have different meanings but the pronunciation or spelling is the same and
ambiguity is the ability to express more than one interpretation. In this case, it is
related to the ‘mahalabiu discourse’ which tends to have multiple meanings in
everyday language usage. The method used in this research is a descriptive
qualitative method. Data collection techniques using interview techniques and
recording techniques. As for the object of research is the indigenous people of the
Banjar tribe who live in the Alabio village. In ‘mahalabiu’, there are several forms
of homonymy, namely: “maharakan, tarap, Langgar, Pagat, tinjak, maling, haur,
dikalang, pusat, nyawa, dan kuitan”. In addition, there is also homonymy which is
homophony and homonymy which is homograph. (1) Homophony is the same sound
but different in writing and meaning, namely: “maharumi (maharu mi), kadada (ka
dada), dan anakutu (anakku tu)”;and (2) homography in ‘mahalabiu’ occurs as a
result of the unification of vocabulary in phonetic pronunciation, namely
“bakicap”. Other than that,in ussing the word mahalabiu on average contains a
double meaning, this occurs due to the use of the word homonymy, while the context
in the conversation is not clear, resulting in inactivity.
Key words: homonymy, phonetic ambiguity, mahalabiu
Abstrak
Homonimi dan Ambiguitas Fonetik dalam Bahasa Mahalabiu. Homonimi adalah
bentuk kata yang memiliki makna yang berbeda tetapi pelafalan atau ejaannya
sama dan ambiguitas adalah kemampuan mengekspresikan lebih dari satu
penafsiran. Dalam hal ini berkaitan dengan mahalabiu yang cenderung
menimbulkan makna ganda dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif yang bersifat deskriptif.
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan teknik rekaman.
Adapun yang menjadi objek penelitian ialah masyarakat asli suku Banjar yang
tinggal di desa Alabio. Dalam wacana mahalabiu terdapat beberapa bentuk
homonimi, yaitu: “maharakan, tarap, langgar, Pagat, tinjak, maling, haur,
dikalang, pusat, nyawa, dan kuitan”. Selain itu, ada pula homonimi yang bersifat

homofoni dan homonimi yang bersifat homograf. (1) Homofoni merupakan bunyi
yang sama tetapi berbeda tulisan dan maknanya, yaitu: “maharumi (maharu mi),
kadada (ka dada), dan anakutu (anakku tu)”; dan (2) homografi dalam mahalabiu
terjadi akibat dari penyatuan kosakata dalam pelafalan fonetik, yaitu “bakicap”.
Selain itu, dalam pemakaian katamahalabiu rata-rata mengandung makna ganda
hal ini terjadi dikarenakan pemakaian kata homonimi, sedangkan konteks dalam
percakapan tidak jelas sehingga muncul ketaksaan.
Kata-kata kunci:homonimi, ambiguitas fonetik, mahalabiu


Full Text:

PDF

References


Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.

Effendi, R. (2012). Eksistensi Sastra Lisan Mahalabiu bagi Masyarakat Banjar Kalimantan

Selatan.Litera, 11 (2), hlm. 298-313.

Effendi, R. (2018). Mahalabiu: Media Kritik Sosial Masyarakat Banjar. Jurnal Bahasa,

Sastradan Pembelajarannya, 7 (1), hlm. 173-182.

Moleong, L. J. (2012). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat.

Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Departemen Pendidikan Nasional. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kelima.

Jakarta: Daring (diakses 26 Mei 2020 pkul 20.41 WIB).

Parera, J. D. (2004). Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.

Pateda, M. (2010). Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

Putrayasa, I. B. (2014). Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rafiek, M. (2018). Humor dalamMadihin Hohn Tralala danHendra (Kajian Jenis Humor

Prespektif Veatch, Gruner, dan Hobbes). Jurnal Bahasa dan Seni, 46 (1), hlm. 57-72.

Sari, Y. P. (2016). Mahalabiu: Ketaksaan Makna dalam Bahasa Banjar. Salingka, 13 (2), hlm.

-113.

Sudarya, Y. (2008). Makna dalam Wacana: Prinsip-prinsip Semantik dan Pragmatik.

Bandung: CV Yrama Widya.




DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jbsp.v10i2.9379

Article Metrics

Abstract view : 413 times
PDF - 1366 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)



Indexed By:

    

    


JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA © 2013 by Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lambung Mangkurat is licensed under CC BY-NC-SA 4.0