BIODIVERSITAS POHON SEBAGAI INDIKATOR KESEHATAN HUTAN DI AREAL RESTORASI BAMBANGAN TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS
Abstract
Forest ecosystem restoration is a vital strategy to address forest degradation, biodiversity loss, and declining ecological functions. The restoration area in Bambangan, Way Kambas National Park, initiated in 2012, aims to restore forest structure, composition, and functions through the planting of various local tree species. Tree diversity is used as an indicator of forest health as it reflects ecosystem stability, regenerative capacity, and resilience to disturbances. Results from the Forest Health Monitoring (FHM) method revealed Shannon-Wiener diversity index values of 1.046 (Cluster 1), 0.745 (Cluster 2), and 2.225 (Cluster 3), indicating vegetation stability ranging from low to high. The dominance of Schima wallichii (puspa tree) signifies initial restoration success, although variations among clusters were observed due to differences in environmental conditions and restoration intensity. Based on the FHM method, the average forest health score is 0.653 (moderate category), with Clusters 1 and 2 categorized as poor and Cluster 3 as good. These findings demonstrate that restoration efforts have positively impacted ecosystem recovery; however, adaptive management is still necessary to further enhance overall forest health
Restorasi ekosistem hutan merupakan strategi penting untuk mengatasi degradasi hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan penurunan fungsi ekologis. Kawasan restorasi Bambangan di Taman Nasional Way Kambas, yang dimulai sejak 2012, bertujuan untuk memulihkan struktur, komposisi, dan fungsi hutan melalui penanaman berbagai jenis pohon lokal. Keanekaragaman pohon digunakan sebagai indikator kesehatan hutan karena mencerminkan stabilitas ekosistem, kemampuan regenerasi, dan ketahanan terhadap gangguan. Hasil penelitian dengan metode Forest Health Monitoring (FHM) menunjukkan nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener sebesar 1,046 (Klaster 1), 0,745 (Klaster 2), dan 2,225 (Klaster 3), yang menggambarkan stabilitas vegetasi dari kurang stabil hingga sangat stabil. Dominasi pohon puspa (Schima wallichii) menandakan keberhasilan awal restorasi, meskipun terdapat variasi antar-klaster akibat perbedaan kondisi lingkungan dan intensitas kegiatan restorasi. Berdasarkan metode FHM, nilai rata-rata kesehatan hutan adalah 0,653 (kategori sedang), dengan Klaster 1 dan 2 masuk dalam kategori buruk, sedangkan Klaster 3 berada dalam kategori baik. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya restorasi memberikan dampak positif terhadap pemulihan ekosistem, tetapi pengelolaan adaptif tetap diperlukan untuk meningkatkan kesehatan hutan secara menyeluruh
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Alrasyid, H. Blabla Kamaluddin, A., Winarno, G. D., Dewi, B. S. 2019. Keanekaragaman jenis avifauna di pusat latihan gajah (plg) taman nasional way kambas (diversity of avifauna at the elephant training center way kambas national park). Jurnal Sylva Lestari. 7(1):10-21.
Apriliyani, Y., Safe'i, R., Kaskoyo, H., Wulandari, C., Febryano, I.G. 2020. Analisis penilaian kesehatan hutan mangrove di Kabupaten Lampung Timur. Jurnal Hutan Tropis. 8(2): 23-130.
Avianto, Y., Noviyanto, A., Sidiq, M. F., Hernowo, H., Pratama, A. B. 2024. Reforestation impact: contrasting carbon stock and biodiversity of clove in monoculture and mixed gardens over 25 Years. Jurnal Biologi Tropis. 24(3): 333-340.
Haikal, F. F., Darmawan, A., Kaskoyo, H., Safe'i, R. 2020. Pentingnya pemantauan kesehatan hutan dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan. Jurnal Hutan Pulau-Pulau Kecil. 4(1): 31-43.
Kurniawan, J., Razak, A., Syah, N., Diliarosta, S., Azhar, A. 2024. Pemanasan global: faktor, dampak dan upaya penanggulangan. INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi. 3(6): 646-655.
Lasaiba, I. 2023. Menggugah kesadaran ekologis: pendekatan biologi untuk pendidikan berkelanjutan. Jendela Pengetahuan. 16(2): 143-163.
Magurran, A. E. 2004. Measuring Biological Diversity. Blackwell Publishing.
Maknun, A. B. A. 2024. Analisis semiotika pada pengungkapan keanekaragaman hayati dalam sustainability report pt aneka tambang tbk. Equilibrium: Jurnal Ilmiah Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi. 13(2): 413-421.
Mangold R. 1997. Forest Health Monitoring: Field Methods Guide. USDA Forest Service. USA. 197 hlm.
Moser, W. K., Barnard, E. L., Billings, R. F., et al. 2002. Forest health monitoring in the United States: A regional overview. Journal of Forestry, 100(6), 25-29.
Prasetyaningtyas, O., Trimurtini, T. 2024. Peran konservasi sumber daya alam hutan terhadap tujuan sustainable development goals (sdgs). Conserva. 2(1): 13-21.
Riba'i, R. I., Setiawan, A., & Darmawan, A. 2013. Perilaku makan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di pusat konservasi Gajah Taman nasional way kambas. Media Konservasi. 18(2): 89-95.
Safe'i, R., Kaskoyo, H., Darmawan, A., Indriani, Y. 2020. Kajian kesehatan hutan dalam pengelolaan hutan konservasi. Ulin Jurnal Hutan Tropis. 4(2): 70-76.
Safe'i, R., Tsani, M.K. 2016. Kesehatan Hutan (Penilaian Kesehatan Hutan Menggunakan Teknik Forest Health Monitoring). Buku Plantaxia Yogyakarta. 101 hlm.
Safe'i, R., Wulandari, C.,Kaskoyo, H. 2019. Penilaian kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan di Provinsi Lampung. Jurnal Sylva Lestari. 7(1): 95-109.
Sanjaya, F. A., Safe'i, R., Winarno, G. D., & Setiawan, A. 2020. Keanekaragaman Jenis Pohon sebagai Salah Satu Indikator Kesehatan Hutan Konservasi. Indonesian Journal of Conservation, 9(1), 1-10.
DOI: https://doi.org/10.20527/jss.v8i2.15138
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Jurnal Sylva Scienteae is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

