Studi Komparatif Pendapatan Petani Jagung Pakan Ternak Antara Peserta dan Non-Peserta Program Korporasi Penangkaran Jagung di Kabupaten Tanah Laut
Andri Yulianti, Usamah Hanafie, Emy Rahmawati
Abstract
Jagung merupakan salah satu komoditas yang berpengaruh dalam perekonomian di Indonesia dan tidak lepas halnya dengan keperluan benih yang dibutuhkan dalam menghasilkan produksi jagung bermutu di tiap musimnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan bersih petani peserta program dan non-program korporasi serta mengetahui apakah ada perbedaan pendapatan yang terjadi diantara petani peserta program dengan petani peserta non-program. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tanah Laut. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan alasan Kabupaten Tanah Laut memiliki tingkat produksi jagung tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan selama 5 periode terakhir yakni 2015 – 2019. Penelitian ini dimuai dari bulan Maret 2020 sampai dengan September 2020. Penarikan contoh dalam penelitian ini dilakukan dengan metode Proportional random sampling. Analisis yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah satu kali musim tanam maka biaya total yang harus di keluarkan petani untuk usahatani jagung korporasi Rp9.399.841/Ha (Rp36.424.384/Rata-rata Usahatani), sedangkan biaya total usahatani jagung non-korporasi Rp7.651.677/Ha (Rp17.422.279/Rata-rata Usahatani). Untuk penerimaan petani korporasi Rp27.909.677/Ha (Rp108.150.000/Rata-rata Usahatani), penerimaan petani jagung non-korporasi yang sebesar Rp16.994.164/Ha (Rp38.580.558/Rata-rata Usahatani). Pendapatan kotor pun dapat kita ketahui pendapatan kotor petani jagung korporasi Rp19.258.224/Ha (Rp74.625.616/Rata-rata Usahatani), pendapatan petani jagung non-korporasi sebesar Rp10.117.065/Ha (Rp23.035.779/Rata-rata Usahatani). Dalam penelitian ini diketahui petani jagung korporasi menghasilkan pendapatan bersih sebesar Rp15.950.145/Ha (Rp61.806.813/Rata-rata Usahatani) sedangkan pendapatan bersih yang dihasilkan petani jagung non-korporasi yang sebesar Rp9.292.487/Ha (Rp21.158.279/Rata-rata Usahatani). Pengujian uji t menggunakan bantuan aplikasi statgraph versi 17.2.0.0 maka diperoleh hasil P-value = 0,00357585, karena nilai-P yang dihitung kurang dari 0,05, kita dapat menolak hipotesis nol yang mendukung alternatifnya, dimana artinya pendapatan bersih petani jagung pakan korporasi tidak sama dengan pendapatan bersih petani jagung non-korporasi.
References
Ario. 2010. Menuju Swasembada Pangan, Revolusi Hijau II: Introduksi Managemen Dalam Pertanian, RBI, Jakarta.
Kasim, Syarifuddin. 1997. Petunjuk Praktis Menghitung Keuntungan Dan Pendapatan Usahatani. Edisi Kedua. Banjarbaru: ULM.
Kementerian Pertanian. 2019. Petunjuk Pelaksanaan Pilot Project Pengembangan Kawasan Perbenihan Jagung Hibrida Berbasis Korporasi Petani TA 2019. Jakarta.
Suratha, I Ketut. 2017. Krisis Petani Berdampak pada Ketahanan Pangan diIndonesia. Media Komunikasi Geografi.16(1).
Walpole, R. E. 2005. Pengantar Statistika Edisi Ke 3, Terjemahan Bambang Sumantri, PT. Gramedia Pustaka utama: Jakarta.
DOI:
https://doi.org/10.20527/frontbiz.v5i1.5949
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2022 Frontier Agribisnis
Frontier Agribisnis is published by Lambung Mangkurat University
Managed by Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture
Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, IndonesiaEmail: [email protected]
