Kearifan Lokal Sistem Perladangan Gilir Balik Masyarakat di Desa Belangian Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan
Abstract
Perladangan gilir balik, masalah utama dalam kegiatan perladangan gilir balik adalah masyarakat sering dianggap sebagai penyebab kerusakan dan kebakaran hutan, begitu pula dengan masyarakat Desa Belangian Kecamatan Aranio yang menggunakan sistem perladangan gilir balik pada pertanian mereka. Sistem ini disamakan dengan sistem ladang berpindah meskipun sebutannya gilir balik. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan atau mengetahui komponen dan kegiatan pada sistem perladangan gilir balik dari tahap persiapan hingga tahap terakhir, kemudian mengidentifikasi kearifan lokal yang dilakukan oleh masyarakat Desa Belangian pada sistem perladangan gilir balik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Belangian Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif dimana data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan melalui wawancara langsung dengan masyarakat peladang, data sekunder didapat melalui studi kepustakaan dari berbagai sumber. Perladangan gilir balik merupakan sistem bercocok tanam yang dilakukan masyarakat lokal secara berpindah dari satu bidang tanah atau ladang ke bidang tanah yang lain sampai kembali ke ladang yang semula ditanami, pembukaan ladang dilakukan dengan cara menebang dan membakar sebagian hutan untuk membuat lahan. Perladangan gilir balik yang dilakukan oleh masyarakat Desa Belangian berlangsung selama 3-4 tahun masa bera, namun tidak menutup kemungkinan masa bera lahan hanya selama 2 tahun jika lahan tersebut sudah memungkinkan untuk dikelola kembali. Tahapan dalam proses perladangan gilir balik meliputi: manabas, batabang, manyalukut, manyamprot, manugal, marumput, dan bagumba. Kearifan lokal dari kegiatan perladangan gilir balik meliputi kearifan lokal terhadap ekologi/konservasi, kearifan lokal terhadap ketahanan pangan dan kearifan lokal terhadap kondisi sosial dan budaya.
Kata kunci: perladangan gilir balik, kearifan budaya lokal.
Full Text:
PDFReferences
Indrawan J, 2011. Kearifan Lokal dalam Memaknai Persatuan Nasional. http://jurnal- politik.blogspot.co.id/2009/08/kearifan-lokal -dalam-memaknai-persatuan.html Diakses pada tanggal 2 September 2016.
Iskandar, J. 1992. Ekologi Perladangan di Indonesia, Studi Kasus dari Daerah Baduy, Banten Selata, Jawa Barat. Penerbit Djambangan, Jakarta.
Nugraha, A. 2005. Rindu Ladang Perspektif Perubahan Masyarakat Desa Hutan. Wana Aksara.
Widen, K. 2001. Pola Pemukiman dan Resistensi Orang Dayak Di Kalimantan Tengah. Seminar dan lokakarya Adat Dayak Kalimantan. Palangkaraya.
DOI: https://doi.org/10.20527/frontbiz.v1i1.766
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2019 Frontier Agribisnis
Managed by Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture
Email: [email protected]




.png)



