Perilaku Pro-Lingkungan Aktivis di Lereng Merapi: Studi Fenomenologi

Yayan Eka Putri(1),Triyono Triyono(2*)
(1) Program Studi Psikologi Islam, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
(2) Program Studi Psikologi Islam Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
(*) Corresponding Author
DOI : 10.20527/ecopsy.2025.12.005

Abstract

Kerusakan lingkungan akibat letusan Gunung Merapi berdampak signifikan bagi masyarakat di sekitarnya, termasuk Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Meskipun telah banyak upaya pemulihan yang dilakukan, peran aktivis lingkungan menjadi krusial dalam memitigasi dan memulihkan kerusakan lingkungan secara berkelanjutan. Namun, penelitian mengenai perilaku pro-lingkungan para aktivis di daerah rawan bencana, khususnya di lereng Merapi, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku pro-lingkungan para aktivis di Desa Balerante dan dampaknya terhadap masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan observasi dan wawancara, serta teknik analisis Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) melalui pengkodean, identifikasi tema utama, dan interpretasi. Subjek penelitian terdiri atas lima orang yang berperan penting dalam gerakan lingkungan, yakni Kepala Desa, Sekretaris Desa, Ketua RW, anggota komunitas relawan, dan pelaku usaha ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pro-lingkungan para aktivis yang didasarkan pada Value-Belief-Norm (VBN) Theory dilakukan melalui empat pendekatan utama: advokasi kebijakan melalui kolaborasi dengan pemerintah, pengelolaan ekowisata berkelanjutan untuk mendukung konservasi dan ekonomi lokal, pelestarian budaya lokal "Merti Deso" sebagai bentuk rasa syukur dan kesadaran kolektif, serta program penghijauan "Merapi Hijau Kembali" untuk memulihkan ekosistem pasca-erupsi. Upaya ini meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi eksploitasi sumber daya alam. Secara psikologis, perilaku tersebut berkontribusi pada pemulihan stres pasca bencana, memperkuat identitas sosial, mempererat solidaritas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan rawan bencana.

Kata kunci: aktivis lingkungan, lereng Merapi, perilaku pro-lingkungan

Keywords


pro-environmental behavior, environmental activists, Merapi slopes

References


Abidin, S. Z. (2012). Kebijakan Publlik (2nd ed.). Jakarta : Salemba Humanika.

Ahmadi, R., Surbakti, A., Jalmo, T. (2018). Hubungan Pengetahuan Lingkungan Hidup dengan

Sikap Peduli Lingkungan Hidup. Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Lampung.

Arief K. Syaifulloh. (2021). Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Penambangan Pasir

Merapi di Klaten. Jurnal Penegakan Hukum Dan Keadilan, 2(2), 147–161.

Arnstein, S. R. (1969). A ladder of citizen participation. Journal of the American Institute of

Planners, 35(4), 216–224.

Berger, P. L. , & L. T. (1966). he social construction of reality: A treatise in the sociology of

knowledge. Anchor Books.

Brotopuspito, K. S., Suratman, Pramumijoyo, S., Hadmoko, D. S., Harijoko, A., & Suyanto,

W. (2011). Kajian multi bahaya, kerentanan, risiko, desain tata ruang kawasan rawan

bencana Merapi dan implementasinya dalam peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan

masyarakat terhadap bahaya gunungapi. Laporan penelitian. Hibah Penelitian Strategis

Nasional, Universitas Gadjah Mada.

Brouns, L. E. (2019). VBN THEORY REVISED An exploratory study on the interplay of

individual and collective factors in explaining sustainable behaviour.

Brundtland, G. H. (1987). Our common future: Report of the World Commission on

Environment and Development. Oxford University Press.

Chazdon, R. L. (2008). Beyond deforestation: Restoring forests and ecosystem services on

degraded lands. Science, 320(5882), 1458–1460.

Cohen, S. (2001). Advocacy for the environment: Strategies for community involvement.

Journal of Environmental Planning and Management, 44(5), 641–653.

Dryzek, J. S. (1997). The politics of the Earth: Environmental discourses. Oxford University

Press.

Geertz, C. (1980). Negara: The theater state in nineteenth-century Bali. Princeton University

Press.

Glanz, K., Rimer, B. K., & Viswanath, K. (2008). Health Behavior and Health Education:

Theory, Research, and Practice. Jossey-Bass.

Harmuningsih, D., & Saleky, S. R. J. (2019). Pengetahuan, Persepsi dan Sikap Generasi Muda

Tentang Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap Niat Perilaku Pro-Lingkungan.

SPECTA Journal of Technology, 1(3), 27–36. https://doi.org/10.35718/specta.v1i3.84

Hasanah, H. (2017). TEKNIK-TEKNIK OBSERVASI (Sebuah Alternatif Metode

Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial). At-Taqaddum, 8(1), 21-46.

https://doi.org/10.21580/at.v8i1.1163

Helaluddin, H. (2018). Mengenal Lebih Dekat dengan Pendekatan Fenomenologi: Sebuah

Penelitian Kualitatif. https://www.researchgate.net/publication/323600431

Honey, M. (2008). Ecotourism and sustainable development: Who owns paradise? Island

Press.

Kollmuss, A., & Agyeman, J. (2002). Mind the Gap: Why do people act environmentally and

what are the barriers to pro-environmental behavior? Environmental Education Research,

(3), 239–260. https://doi.org/10.1080/13504620220145401

Lavigne, F., Thouret, J. C., Voight, B., Young, K., & Komorowski, J. C. (2008). Environmental

hazards and community resilience in volcanic areas: Insights from Mount Sinabung and

Mount Merapi. Environmental Hazards, 7(4), 387–401.

Leonidou, L. C., Leonidou, C. N., & Kvasova, O. (2010). Antecedents and outcomes of

consumer environmentally friendly attitudes and behaviour. Journal of Marketing

Management, 26(13–14), 1319–1344. https://doi.org/10.1080/0267257X.2010.523710

Lu, H., Zhang, W., Diao, B., Liu, Y., Chen, H., Long, R., & Cai, S. (2021). The progress and

trend of pro-environmental behavior research: A bibliometrics-based visualization

analysis. Current Psychology. https://doi.org/10.1007/s12144-021-01809-1

Makhali, M. N., & Widjanarko, D. M. (2023). Perilaku Pro Lingkungan Petani Kopi di

Kawasan Pegunungan Muria Pro-environmental Behavior among Coffee Farmers in

Muria Mountains Area. Jurnal Ecopsy, 10(1), 2354–7634.

https://doi.org/10.20527/ecopsy.2023.02.001

Mardiatno, D. , P. S. , & K. D. (2014). Local wisdom for disaster risk reduction: Case study of

Sedekah Bumi in Merapi Volcano area. International Journal of Disaster Risk Reduction,

, 46–55.

Marendra., G. (2014). Kapasitas Kelembagaan dan Kearifan Lokal dalam Antisipasi

Penanggulangan Bencana Merapi Tahun 2010 di Kabupaten Klaten (Studi Kasus di Desa

Balerante, Kecamatan Kemalang). Jurusan Ilmu Pemerintahan, FISIP, Universitas

Diponegoro Jln. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, 50239.

Marhaento, H., & Kurnia, A. N. (2015). REFLEKSI 5 TAHUN PASKA ERUPSI GUNUNG

MERAPI 2010: MENAKSIR KERUGIAN EKOLOGIS DI KAWASAN TAMAN

NASIONAL GUNUNG MERAPI. Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning,

(2). https://doi.org/10.14710/geoplanning.2.2.69-81

Paul Hawken (2007). Blessed Unrest: How the Largest Movement in the World Came into

Being and Why No One Saw It Coming. Viking Press. ISBN 978-0-670-03852-7

Rahman, D. R. (2023). Peran Kebudayaan Dalam Pembentukan Kesadaran Sosial dan

Lingkungan. JUPSI, 1(1), 41–48.

Salsabil, R., Bagus Wibowo, R., Rahayu, R. (2024) Kerusakan Ekosistem Akibat Penambangan

Pasir Di Kawasan Gunung Merapi Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jurnal Ekologi,

Masyarakat dan Sains, 5(1), 122-29. https://doi.org/10.55448/ems

Scheyvens, R. (1999). Ecotourism and the empowerment of local communities. Tourism

Management, 20(2), 245–249.

Schultz, P. W. (2000). Empathizing With Nature : The Effects of Perspective Taking on

Concern for Environmental Issues, 56(3), 391–406.

Smith, J. A.., Flowers, Paul., & Larkin, Michael. (2013). Interpretative phenomenological

analysis.

Sodiq, A. M., & Widjanarko, M. (2023). Perilaku Prolingkungan di Kawasan Wisata Religi

Sunan Muria. Media Ilmiah Teknik Lingkungan, 8(2), 50–56.

https://doi.org/10.33084/mitl.v8i2.5061

Steg, L., & Vlek, C. (2009). Encouraging pro-environmental behaviour : An integrative review

and research agenda. Journal of Environmental Psychology, 29(3), 309–317.

https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2008.10.004

Stern, P. C., Dietz, T., Abel, T. D., Guagnano, G., & Kalof, L. (n.d.). A Value-Belief-Norm

Theory of Support for Social Movements: The Case of Environmentalism Recommended

Citation. https://cedar.wwu.edu/hcop_facpubs

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Hidup

van der Werff, E., Steg, L., & Ruepert, A. (2021). My company is green, so am I: the

relationship between perceived environmental responsibility of organisations and

government, environmental self-identity, and pro-environmental behaviours. Energy

Efficiency, 14(5). https://doi.org/10.1007/s12053-021-09958-9

Wood, R. , & B. A. (1989). Social cognitive theory of organizational management. Academy of

Management Review, 14(3), 361–384.

Yudhistira, Y., Hidayat, W. K., & Hadiyarto, A. (2012). Kajian Dampak Kerusakan

Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Desa Keningar Daerah Kawasan

Gunung Merapi. Jurnal Ilmu Lingkungan, 9(2), 76-84. https://doi.org/10.14710/jil.9.2.76-


Article Statistic

Abstract view : 474 times
PDF (Bahasa Indonesia) views : 596 times

Dimensions Metrics

Article History

Submited : 4 January 2025
Published : 30 April 2025

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2025 Yayan Eka Putri, Triyono Triyono

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.