Hubungan antara adversity quotient dengan resiliensi pada penderita kanker stadium lanjut
Abstract
Penderita kanker stadium lanjut menghadapi kesulitan dalam melawan penyakit kronis yang dideritanya, sehingga dibutuhkan adversity quotient tipe climbers agar dapat bertahan, bangkit dan menyesuaikan diri dalam menghadapi kesulitan (resiliensi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adversity quotient dengan resiliensi pada penderita kanker stadium lanjut. Sampel penelitian ini adalah penderita kanker stadium lanjut yang melakukan kemoterapi di RSUD Ulin Banjarmasin ruang Edelweis berjumlah 60 orang yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Metode pengumpulan data menggunakan skala adversity quotient dan skala resiliensi. Berdasarkan uji korelasi product moment Pearson diketahui bahwa semakin tinggi adversity quotient maka semakin tinggi pula resiliensinya dan sebaliknya. Sumbangan efektif adversity quotient terhadap resiliensi sebesar 95,1% sedangkan sisanya sebesar 4,9% kemungkinan dipengaruhi oleh variabel lain diluar adversity quotient seperti empati dan reaching out. Berdasarkan hasil, maka dapat disimpulkan bahwa adversity quotient dan resiliensi pada penderita kanker stadium lanjut di Ruang Edelweis berada di kategori tinggi.
Kata kunci: Adversity Quotient, Resiliensi, Penderita Kanker stadium lanjut, RSUD Ulin Banjarmasin
Patients with advanced-stage cancer face difficulties in the fight against chronic disease, so it takes adversity quotient type climber to survive, rise up and adapt (resilience). Purpose of this study was to find out correlation between adversity quotient and resilience in patients with advanced-stage cancer. Samples were 60 patients with advanced-stage cancer who underwent chemotherapy in Edelweis room, using accidental sampling technique. Data were collected using a scale of adversity quotient and a scale of resilience. Based on Pearson's product moment correlation test, it was found out that the higher adversity quotient, the higher resilience, and conversely. The effective contribution of adversity quotient to resilience was 95.1% while remaining 4.9% was likely influenced by other variables, such as empathy and reaching out. Based on the results, it can be concluded that the adversity quotient and resilience in patients with advanced-stage cancer in Edelweis Room was in the high category.
Keywords: adversity quotient, resilience, patients with advanced-stage cancer, Ulin hospital Banjarmasin.
Keywords
References
Aulia, L., & Kelly, E. (2012). Resiliensi remaja ditinjau dari tipe temperamen dan adversity quotient (AQ) di SMA Negeri 1 Purwosari Kabupaten Pasuruan. Jurnal Psikologi, 1(2). Diakses tanggal 14 September 2015, dari http://jurnal.yudharta.ac.id/wp=content/.../dan.p df
Azwar, S. (2011). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Azwar, S. (2012). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Campbell, K. (2014). Resilience and self-control among georgia southern students: A comparative study between ROTC students and non ROTC students. Student Research Papers. Diakses tanggal 26 Februari 2016, dari http/://digitalcommons.georgiasouthern.edu/cgi/ paperarticle/…/15.pdf
Dewi, F., & Melisa. (2010). Hubungan antara resiliensi dengan depresi pada perempuan pasca pengangkatan payudara (mastektomi). Jurnal Psikologi, 2(2), 101-120.
Faridh, R. (2008). Hubungan antara regulasi emosi dengan kecenderungan kenakalan remaja. Naskah Publikasi. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia. Diakses tanggal 1 November 2015, dari http://psychology.uii.co.id/naskah-publikasi/.../04320316.pdf
Julike, F. (2012). Hubungan antara efikasi diri dengan perilaku mencari pengobatan pada penderita kanker payudara di RSUD Ibnu Sina Gresik.
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 1(2), 138-144.
Karyanta, N., & Isyanta, B. (2014). Hubungan antara optimisme dengan adversity quotient pada mahasiswa program studi psikologi Fakultas Kedokteran UNS yang mengerjakan skripsi.
Jurnal Psikologi, 2(5), 154-167.
Oemiati, R., Rahajeng, E., & Kristanto, A. (2011). Prevalansi tumor dan beberapa faktor
mempengaruhinya di Indonesia. Bul Penelit Kesehat, 39(4), 190-204
Priyatno, D. (2010). Paham analisa statistik data dengan SPSS. Yogyakarta: Mediakom
Purnawan, G. (2015). Studi fenomenologi :Pengalaman hidup pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUD Sanglah Denpasar. KMB, Maternitas, Anak dan Kritis, 2(1), 64-76.
Rahmah, A., & Widuri, E. (2011). Post traumatic growth pada penderita kanker payudara. Humanitas, 8(2), 114-128.
Rievich, K., & Shatte, A. (2002). The resilience factor 7 essential skill for overcoming life’s inevitable obstacles. New York: Random House,Inc
Saragih, R. (2010). Peranan dukungan keluarga dan koping pasien dengan penyakit kanker terhadap pengobatan kemoterapi di RB 1 Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2010. Jurnal Keperawatan, 1(12), 1-10.
Srimulyani, V. (2013). Analisis pengaruh kecerdasan adversitas, internal locus of control, kematangan karir terhadap intensi berwirauaha pada mahasiswa bekerja. Widya Warta, 1(2), 96-110.
Stoltz, P. (2000). Adversity quotient : Mengubah hambatan menjadi peluang. Terjemahan oleh T. Hermaya. Jakarta : PT. Grasindo
Sugiyono. (2013). Metode peneliian pendidikan. Bandung: Alfabeta
Zaroni, R., Mohammadi, S., & Danesh, E. (2015). Comparing emotion regulation and anger control strategies in cancer and MS patients. GMP Review. 16, 463-571
Article Statistic
Abstract view : 2894 timesPDF views : 2730 times
Dimensions Metrics
Article History
Submited : 27 January 2017Published : 27 January 2017
How To Cite This :
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2017 Eka Yulianti Septia Sukma Dewi, Marina Dwi Mayangsari, Rahmi Fauzia

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

