Makna bahagia pada lajang dewasa madya

Muhammad Syarif Hidayatullah(1*),Raina Meilia Larassaty(2)
(1) Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru
(2) Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru
(*) Corresponding Author
DOI : 10.20527/ecopsy.v4i2.3847

Abstract

ABSTRAK

 

Masyarakat Indonesia umumnya memberikan pelabelan negatif bagi individu yang belum menikah ketika telah memasuki dewasa madya. Label ini dianut oleh masyarakat Indonesia secara turun temurun sehingga orang tua juga mengajarkan hal yang sama kepada anaknya terutama pada anak perempuan. Akan tetapi, pada kenyataannya masih ada individu yang telah memasuki masa dewasa madya yang belum menikah dan membina keluarga. Individu yang belum menikah dalam masyarakat biasa disebut sebagai lajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami tentang kebahagiaan pada individu yang telah memasuki masa dewasa madya namun masih berstatus lajang. Metodologi kualitatif dengan perspektif fenomenologi digunakan untuk menggali data dari partisipan penelitian, yaitu individu dewasa madya yang berstatus lajang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek memiliki kesamaan dalam memandang kebahagiaan, yakni kebahagiaan yang mereka dapat adalah bagian dari proses. Kebahagiaan mereka tidak terbebani tujuan yang ingin dicapai. Kebahagiaan yang mereka rasakan berupa proses memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, realistis terhadap masa depan dan adanya makna dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

 

Kata kunci: Kebahagiaan, Lajang, Dewasa madya

 

ABSTRACT

 

Indonesian society generally provides negative labeling for unmarried individuals when they have entered middle adulthood. This label is embraced by the Indonesian people from generation to generation so that parents also teach the same to their children, especially in girls. However, in reality there are still individuals who have entered an unmarried mature age and fostered families. Individuals who are not married in the community are commonly referred to as single. This study aims to explore and understand about the happiness of individuals who have entered middle adulthood but still single status. Qualitative methodologies with phenomenological perspectives were used to extract data from research participants, ie single adult individuals with single status. The research findings show that the two subjects have a similarity in looking at happiness, that the happiness they get is part of the process. Their happiness is not burdened with goals to be achieved. The happiness they feel is a process of having a positive relationship with others, realistic about the future and the meaning in every activity undertaken.
 Keywords : Happines, Single, Middle Adulthood

References


Arriza, B. K., Endah K. D., Dian V.S. Kaloeti. (2011). Memahami rekontruksi kebahagiaan pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jurnal Psikologi Undip. Vol.10, No.2.

Aziz, R. (2011). Pengalaman spiritual dan kebahagiaan pada guru agama sekolah dasar. Proyeksi. Vol. 6, No. 2.

Benokraitis, N. V. (2011). Marriages and families: Changes, choices, and constraints. New Yorl: Pearson.

Carr, A. (2004). Positive psychology the science of happiness and human strengths. Canada. Brunner-Rotledge.

Christie, Yohana, Hartanti, & Nanik. (2013). Perbedaan kesejahteraan psikologis pada wanita lajang ditinjau dari tipe wanita lajang. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol. 2, No. 1.

Hurlock, E. B. (2000). Psikologi perkembangan, suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. (edisi kelima). Jakarta: Erlangga.

Kurniati, Gracilia, Hartanti, & Nanik. (2013). Psychological well being pada pria lajang dewasa madya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol. 2, No. 2.

Layous, Kristin, Joseph C., Sonja. L., Lihong W., P. Murali Doraiswamy. (2011). Delivering happiness: Translating positive psychology intervention research for treating major and minor depressive disorders. The Journal of Alternative and Complementary Medicine. Vol. 17, No. 8.

Meichenbaum, D. (2006). Resilience and posttraumatic growth: A constructive narrative perspective. In L.G. Calhoun & R. G. Tedeschi (Eds.), Handbook of posttraumatic growth. (pp. 355-368), Mahwah, NJ: Erlbaum Associates.

Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. Thousand Oaks: Sage Publications.

Noviana, Catarina L. D. & Eunike S. T. Suci. (2011). Konflik Interpersonal Wanita Lajang terhadap Tuntutan Orangtua untuk Menikah. Jurnal Psikologi Indonesia. Vol. VII, No.1.

Seligman,M.E.P., (2005). Authentic happiness: Menciptakan kebahagiaan dengan psikologi positif (Eva Yulia Nukman, Trans.). Bandung: Mizan.

Susanti. (2012). Hubungan Harga Diri dan Psychological pada Wanita Lajang Ditinjau dari Bidang Pekerjaan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. 1(1). 1-8.

Sutanto, Pauline & Farida H.. (2010). Gambaran Konsep Diri pada Wanta Berkarier Sukses yang Belum Menikah. INSAN. Vol. 12, No. 1


Article Statistic

Abstract view : 1402 times
PDF views : 2513 times

Dimensions Metrics

Article History

Submited : 24 August 2017
Published : 27 September 2017

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Muhammad Syarif Hidayatullah, Raina Meilia Larassaty

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.