KOMPOSISI GUILD BURUNG DI KAWASAN RAWA KALANG KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN

Maulana Khalid Riefani

Abstract


Abstrak.Keanekaragaman jenis burung di rawa kalang Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dapat dijadikan sebagai indikator karena kehidupan burung dipengaruhi faktor biotik dan abioti.kualitas lingkungan.Penelitian bertujuan untuk menganalisis keanekaragamanjenis burung dan komposisi guild burung di kawasan rawa kalang.Melalui titik kelimpahan dan penjelajahan, burung kawasan rawa kalang diamati dan diidentifikasi visualdan didokumentasikan.Parameter yang didata adalah tipe habitat, jam dan menit kehadiran, nama spesies, dan jumlah individu. Data ditabulasidan dianalisis keanekaragaman jenisnya. Status perlindungan, konservasi,perdagangan, dan pemanfaatan  sumber daya pakan. Hasil pengambilan data dalam rangkaian kegiatan penelitian lapangan pada bulan Mei, Juli, dan Agustus 2017 mengidentifikasi 59 spesies burung dari 32 famili burung yang menggunakan habitat rawa kalang untuk beraktivitas. Tujuh belas diantara burung kawasan rawa kalang dilindungi PP No 7 Tahun 1999.Indeks keanekaragaman burung di kawasan rawa kalang sedang (H’ = 1,121). Komposisi guildyang paling banyak ditemukan adalah kelompok pemakan invertebrata dan vertebratasebesar 38,98%.

 

Kata kunci: keanekaragaman, burung,rawa kalang,habitat, guild

References


Bishop JA, WL Myers. 2005. Associations between avian functional guild response and regional landscape properties for conservation planning. Ecological Indicators 5:33-48.

Boer C. 2004. Restorasi Ekologi Lahan Bekas Tambang Batubara Areal PT Kaltim Prima Coal.Biodiversity and Monitoring Report.Samarinda: Fakultas Kehutanan,Universitas Mulawarman.

CITES. 2013. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. Geneva: UNEP. [28September 2013].

Cody LM. 1981. Habitat selection in birds: the roles of vegetation structure, competitors and productivity. Bioscience. 31(2): 107-113.

Gray MA, Baldauf SL, Mayhew PJ, Hill JK. 2007. The response of avian feeding guilds to tropical forest disturbance. Conservation Biology. 21(1): 133-141.

IUCN. 2016. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2016.2..8 Januari 2017.

Karr JR.1980. Geographical variation in the avifaunas of tropical forest undergrowth. Auk. 97: 283-298.

MacKinnon J, K Phillipps, B Balen. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan (Termasuk Sabah, Sarawak dan Brunei Darussalam). Bogor: Burung Indonesia.

Nirarita, E., dkk. 1996. Ekosistem Lahan Basah Indonesia Buku Panduan untuk Guru dan Praktisi Pendidikan Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Perairan, Bogor.

O’Connell TJ, Jackson LE, Brook RP. 2000. Bird guilds as indicators of ecological conditions in the central appalachians. Ecological Application. 10 (6): 17061721.

Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Riefani, M. K.., Soendjoto, M. A. (2013). Keragaman Burung Air di Kawasan NPLCT Arutmin Indonesia Tanjung Pemacningan Kotabaru, Kalimantan Selatan. Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Biologi (pp. 181-193). Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIP Universitas Negeri Yogyakarta.

Soendjoto MA, Gunawan. 2003. Keragaman burung di enam tipe habitat PT Inhutani I Labanan,Kalimantan Timur. Biodivesitas 4:103-111.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.