KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM USAHA PERTANIAN KARET DI DESA HANTAKAN KECAMATAN HANTAKAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
Fajar Mustaqim, Masyhudah Rosni, Luthfi Fatah
Abstract
Kearifan lokal adalah bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Kecamatan Hantakan mempunyai luas areal perkebunan karet terluas di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa banyak kearifan lokal yang masih digunakan, berapa banyak yang pernah ada tetapi tidak digunakan lagi, dan apa yang menyebabkan mereka dipertahankan dan ditinggalkan. Penelitian ini dilakukan melalui metode survei, dan responden yang dipilih melalui metode purposive sampling dengan berlandaskan kriteria berikut, memiliki pengalaman dan pengetahuan pribadi terkait usahatani serta mau berbagi pengetahuan, usia orang tersebut sudah berumur atau sudah tua (lebih dari 40 tahun), serta bisa menjawab pertanyaan yang akan diajukan. Sehingga sampel yang dapat diambil sebanyak 30 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah kearifan lokal yang masih dipakai sampai sekarang berjumlah 30 yang terdiri dari pembukaan lahan berjumlah 8, pembibitan berjumlah 2, penanaman berjumlah 5, masa sebelum produksi berjumlah 2, pemeliharaan berjumlah 4, penyadapan berjumlah 6, bahan olahan karet berjumlah 1 dan pemasaran berjumlah 2 kearifan lokal. Sedangkan jumlah kearifan lokal yang pernah ada tetapi tidak digunakan lagi di Desa Hantakan berjumlah 6 yang terdiri dari pembukaan lahan berjumlah 4, pembibitan berjumlah 1 dan penanaman berjumlah 1 kearifan lokal. Sehingga diketahui faktor penyebab kearifan lokal yang masih dipakai adalah karena rendahnya biaya, memberikan kemudahan, dan masih mengikuti kearifan lokal yang sudah pernah dilakukan oleh masyarakat dahulu. Sedangkan faktor penyebab kearifan lokal yang ditinggalkan adalah adanya aturan dari pemerintah untuk perizinan pembukaan lahan, mempersulit dan membuang-buang biaya, beberapa lahan karet memiliki kemiringan yang cukup curam, dan bibit unggul sudah mulai mudah didapatkan.
References
Adimihardja, K. 1998. Petani Merajut Tradisi Era Globalisasi. Humaniora Utama Press. Bandung. Dalam Azmi., et al. 2015. Analisis Kearifan Lokal Tanaman Karet di Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi.Universitas Riau. Pekanbaru.
BPS Kabupaten Hulu Sungai Tengah. 2021.Hulu Sungai Tengah Dalam Angka 2021. BPS Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Hulu Sungai Tengah.
Harkaneri. 2014. Memahami Praktek Bagi-Hasil Kebun Karet Masyarakat Kampar Riau. Jurnal Al-Iqtishad, Volume 2(10), 14-38.
Haryanto, J. 2014. Kearifan Lokal Pendukung Kerukunan Beragama Pada Komunitas Tengger Malang Jatim. Jurnal Analisa. Volume 21 (2): 201-213.
Nasruddin., et al., (Ed). 2011. Buku Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Jakarta.
Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat 111-120. Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.
Sidabutar, O.S. 2016. Strategi Mempertahankan Kearifan Lokal Dalam Budidaya Karet di Desa Simpang Raya Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara. JOM Faperta, Volume 3 No 2, Oktober 2016
Sumarmi & Amarudin. 2014. Pengelolaan Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal. Aditya Media Publishing. Malang.
Wijayanti & Saefuddin. 2012. Analisis Pendapatan Usahatani Karet (Heveabrasiliensis) di Desa Bunga Putih Kecamatan Marang Kayu Kabupaten Kutai Kartanegara. Ziraa’ah, Volume 34 No 2, Juni 2012.
DOI:
https://doi.org/10.20527/frontbiz.v8i1.12260
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2024 Frontier Agribisnis
Frontier Agribisnis is published by Lambung Mangkurat University
Managed by Agribusiness Study Program, Faculty of Agriculture
Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, IndonesiaEmail: [email protected]
